blablabla

3 November 2013

System penghitungan suara yang digunakanpun sudah cukup baik, dulu sebelum tahun 2009 nomor urut calon anggota dewan baik itu DPR, DPRD tingkat I ataupun DPRD tingkat II sangat mempengaruhi. Dimana nomor urut yang lebih kecil kemungkinan menjadi anggota dewan lebih besar, karena suara yang hanya masuk ke partai tanpa memilih anggota dewan secara otomatis akan masuk ke kantong suara nomor urut 1 dan jika sudah mencapai batas suara untuk lolos maka suara sisanya akan diberikan kepada nomor setelahnya yaitu nomor urut 2 dan begitu seterusnya.
Namun setelah dilakukan Judisial Review oleh Mahkamah Konstitusi hal tersebut diganti, dimana nomor urut tidak lagi mempengaruhi probabbilitas lolos menjadi anggota dewan. Suara terbanyak di setiap calon anggota akan meloloskannya secara otomatis. Jadi nomor urut calon sudah tidak menetukan lagi.
Untuk pemilihan Presiden, pemilihan langsung oleh rakyat merupakan langkah yang sangat baik karena setiap rakyat mempunya kebebasan untuk menentukan pemilihnya. Cara penghitungan suara juga cukup baik dengan jumlah yang mengharuskan menyentuh angka 50% + 1% sebagai syarat menjadi presiden. Jika tidak menyentuh angka tersebut, maka dilakukan pemilihan ulang dengan dua kandidat teratas maju ke putaran selanjutnya.


nothing a reason

3 November 2013

Aku mencintaimu bukan karena kecantikanmu

Karena aku tahu wajahmu akan keriput dan tubuhmu akan renta seiring usia yang semakin menua

Aku mencintaimu bukan karena apa yang kau punya

Karena ku tahu segala yang kau miliki takkan mampu selamanya kau genggam

Aku mencintaimu bukan karena keadaaanmu saat ini

Karena segalanya mungkin saja berubah seiring berjalannya waktu

Bukan, bukan karena itu semua aku mencintaimu

Tapi aku mencintaimu karena hati ini yakin bahwa kau lah bagian dari tulang rusuk kiriku yang hilang

Karena hati ini pula yang telah memilihmu untuk melengkapi kekuranganku dalam mengaranungi samudera kehidupan

Ijinkan aku untuk bisa mencintaimu dengan sederhana

Dengan segala kerendahan hati.


Scientific Approach (Pedekatan Ilmiah) Dalam Pendidikan

3 November 2013

Scientific Approach merupakan satu pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran dengan menitikberatkan pada penggunaan metode ilmiah dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini di dasari pada esensi pembelajaran yang sesungghnya merupakan sebuah proses ilmiah yang dilakukan oleh siswa dan guru. Pendekatan ini diharapkan bisa membuat siswa berpikir ilmiah, logis, kritis dan objektif sesuai dengan fakta yang ada.
Jika merujuk pada data sosialisasi kurikulum 2013 yang dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi, antara lain:
1. Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.
2. Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru-siswa terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.
3. Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran.
4. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran.
5. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran.
6. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan.
7. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya.
Dalam pendekatan ilmiah, ada beberapa langkah yang harus dilakukan yaitu mengamati, menanya, menalar, mencoba, membentuk jejaring untuk semua mata pelajaran. Dari hasil pengamatan saya, ada beberapa masalah yang terdapat dalam setiap langkahnya. Antara lain:
• Mengamati
Masalah yang terdapat pada proses ini adalah pada aspek waktu, dimana pada proses mengamati memerlukan waktu yang tidak sedikit. Dari segi biaya, proses ini juga memakan biaya yang tak sedikit, sama halnya dengan tenaga yang dikeluarkan.
Tingkat konsentrasi dan focus pada proses ini harus tinggi, jika tidak hal ini bisa membuat apa yang ingin pelajari menjadi kabur dan tidak jelas.
• Menanya
Pada proses menanya, masalah yang muncul biasanya berasal dari pertanyaan itu sendiri. Kendalanya adalah kesulitan dalam membuat pertanyaan yang baik dan menarik minat siswa serta membuat siswa berpikir kritis terhadap suatu kajian. Dibutuhkan pengalaman sehingga mempunyai keterampilan untuk membuat pertanyaan yang menarik.
• Menalar
Pada tahap ini, masalah yang saya temukan adalah cara menumbuhkan keterampilan siswa untuk berpikir induktif dan deduktif serta menarik kesimpulan dari setiap fenomena baik itu khusus ataupun umum.
Kesulitan lain yang terdapat pada tahap ini adalah menarik hubungan dari setiap fenomena yang ada.
• Mencoba
Dalam pelajaran sejarah, tahapan ini salah satunya dilakukan agar peserta didik mampu mengaitkan fakta-fakta sejarah dengan kehidupan sehari-hari. Jika dalam metode pembelajaran ini disebut dengan contextual teaching learning. Masalah yang ada adalah dari kesiapan guru dalam menyajikan pelajaran dan mengaitkannya dengan fenomena yang sekarang terjadi.
• Membentuk Jejaring
Pada tahap ini siswa dan guru saling bertukar informasi, siswa bisa mengakses informasi dari mana saja termasuk internet. Masalahnya adalah masih banyak guru yang belum bisa memanfaatkan internet dan menggunakannya untuk pembelajaran.
Salah satu metode yang bisa digunakan dalam pendekatan scientific learning adalah metode discovery learning.
Menurut Bruner dalam Arends (2008), discovery learning merupakan sebuah metode pengajaran yang menekankan pentingnya membantu siswa untuk memahami struktur atau ide-ide kunci suatu disiplin ilmu, kebutuhan akan keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar, dan keyakinan bahwa pembelajaran sejati terjadi melalui personal discovery (penemuan pribadi)
Kekurangan yang terdapat dalam metode ini antara lain :
•Metode ini tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak, karena membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan teori atau pemecahan masalah lainnya
•Pengajaran discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman, sedangkan mengembangkan aspek konsep, keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian

Sumber :
Data Sosialisasi Kuruikulum 2013 dari Kemedikbud RI
http://www.bakharuddin.net/2013/09/pendekatan-scientific-untuk-penerapan.html
http://budiman2013.blogspot.com/2013/05/metode-penemuan-inquiry-discovery-method.html
http://riensuciati99.blogspot.com/2013/04/model-pembelajaran-discovery-penemuan.html


Percaya atau Tidak Peduli?

15 Juli 2013

Banyak orang yang menyebut bahwa tidak peduli dan percaya itu beda tipis, ya pendapat itu tidak sepenuhnya salah karena memang pada dasarnya hal itu menjadi permasalahan di setiap hubungan. Persepsi setiap orang tentunya akan selalu berbeda dengan orang lain. Sudut pandang setiap orang akan melahirkan satu keunikan karena berbeda dari orang lain. seperti melihat uang, ada dua sisi namun tetap satu benda yakni uang.
bagi saya pribadi, entah kenapa saya lebih memilih untuk percayaketimbang berspekulasi dengan semua hal yang belum tentu benar. pada dasarnya, membangun hubungan diawali dengan percaya kepada pasangan. ketika anda tidak percaya kepada pasangan anda, lantas apa yang anda harapkan dari sebuah hubungan yang anda jalin?
pendapat saya tentu tidak harus anda terima karena setiap orang punya argumentasi berbeda. 🙂


Islam di Afrika

10 Januari 2012

Islam di Afrika

oleh : Gunawan, Paskasius Fajar. S, Maman Suherman

Sejarah

            Pada awalnya wilayah Afrika telah dihuni oleh bangsa Barbar jauh-jauh abad sebelum datangnya Islam di Afrika. Di dalam sejarah Barbar diartikan sebagai nama bangsa yag bertebaran di dataran Eropa sejak abad ke-3 M. namun sebenrnya asal mula bangsa ini adalah berasal dari asia bagian tengah khususnya Kaukasus. Pada masa itu juga kekuasaan Byzantium di Afrika yaitu Kartago berhasil dikalahkan oleh orang-orang Vandal dengan pimpinan Geiserik.

            Pada masa Nabi Muhammad S.A.W, kontak Islam dengan wilayah Afrika pertama kali adalah ketika para sahabat hijrah ke Abisinia. Di sana mereka mendapat perlakuan yang baik dan hangat dari penguasa Abisinia yaitu Raja Najasy (Negrus). Pada masa khalifah Umar bin Khattab, panglima Amr bin ‘Ash berhasil menguasai Mesir dan mengalahkan tentara Byzantium dan kota Fustat pun menjadi ibu kota Islam pertama di Afrika. Pada masa khalifah Usman bin Affan,  ia mengirimkan Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah yang kemudian bisa mengalahkan tentara Byzantium dalam peperangan di Laut Tengah Baca entri selengkapnya »


BUPATI DI PRIANGAN

24 November 2011

BUPATI DI PRIANGAN

Dan Kajian Lainnya mengenai Budaya Sunda

KAJIAN BUKU

diajukan untuk memenuhi sebagian tugas mata kuliah

Sejarah Kolonialisme Barat di Indonesia

disusun oleh :

Fitri Apriliyanti           1000908

Hadar Suhendar           1000904

Hena Gian H                1001926

Niar Riska A                1000905

Novi Rahayu                1000909

Sigit Purnomo S           1006283


 

JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH

FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG

2011

BAB I

IDENTITAS BUKU

 

Judul                    : Bupati di Priangan dan Kajian Lainnya mengenai Budaya Sunda

Penulis                  : A. Sobana Hardjasaputra, H. D. Bastaman, Edi S. Ekadjati, Ajip Rosidi, Wim van Zanten, dan Undang A. Darsa.

Penerbit                : Yayasan Pusat Studi Sunda

Distributor            : PT. Kiblat Buku Utama

Tahun Terbit         : Desember 2004

Kota Terbit           : Bandung

Editor                   : Ajip Rosidi

Warna Cover        : Coklat muda dengan coklat kekuning-kuningan di tengahnya

Gambar Cover     : Gambar baju daerah dan payung

Ukuran Buku       : 20,6 cm x 14,3 cm

Tebal Buku           : 1 cm.

Tebal Halaman    : 190 halaman

Buku yang merupakan kumpulan dari hasil penelitian – penelitian ini mempunyai cover berwarna coklat muda, dan adapun gambar cover buku ini yaitu baju kebesaran yang digunakan para bupati di Priangan pada zaman itu serta songsonng ( payung kebesaran ) yang digunakan untuk acara – acara resmi pada zaman itu, jika dilihat dari pembahasannya buku ini terdiri dari enam bab, meskipun hanya 6 bab buku ini sangat cukup untuk memahami keadaan bupati di Priangan pada zaman kolonialime disertai dengan beberapa kajian lainnya mengenai budaya Sunda yaitu sebagai berikut:

Bab I     : Bupati di Priangan Baca entri selengkapnya »


REVOLUTIONARY EUROPE AND THE DESTRUCTION OF JAVA’S OLD ORDER, 1808-1830

24 November 2011

 

REVOLUTIONARY EUROPE AND THE DESTRUCTION

OF JAVA’S OLD ORDER, 1808-1830

(Tulisan Peter Carey, Fellow Emeritus, Trinity College, Oxford)

Makalah

disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Perkuliahan

Sejarah Kolonialisme Barat di Indonesia

 

 

Disusun oleh

DAMAN

DEA FITRIANY

GHINA AMBARRANI NIAGARI

ILLA TILAWATI

INDRA JAYA SIMATUPANG

RAHMAN NURDIN SALEH

JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH

FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG

2011

BAB I

IDENTITAS TULISAN

 

Judul asli dari makalah ini dalam bahasa Inggris yaitu Revolusionary Europe And The Destraction Of  Java’S Old Order, 1808-1830, dan dalam bahasa Indonesia adalah Revolusioner Eropa dan Kehancuran Pemerintahan Jawa Kuno. Penulisnya adalah  Peter Carey yang merupakan seorang sejarawan dari Oxford University. Tulisan ini berisi 22 halaman dan tidak memiliki sampul. Tulisan ini juga disampaikan dalam kuliah umum yang diselenggarakan Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS UPI, 8 September 2011 di Auditorium FPIPS. Baca entri selengkapnya »