BUPATI DI PRIANGAN

BUPATI DI PRIANGAN

Dan Kajian Lainnya mengenai Budaya Sunda

KAJIAN BUKU

diajukan untuk memenuhi sebagian tugas mata kuliah

Sejarah Kolonialisme Barat di Indonesia

disusun oleh :

Fitri Apriliyanti           1000908

Hadar Suhendar           1000904

Hena Gian H                1001926

Niar Riska A                1000905

Novi Rahayu                1000909

Sigit Purnomo S           1006283


 

JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH

FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG

2011

BAB I

IDENTITAS BUKU

 

Judul                    : Bupati di Priangan dan Kajian Lainnya mengenai Budaya Sunda

Penulis                  : A. Sobana Hardjasaputra, H. D. Bastaman, Edi S. Ekadjati, Ajip Rosidi, Wim van Zanten, dan Undang A. Darsa.

Penerbit                : Yayasan Pusat Studi Sunda

Distributor            : PT. Kiblat Buku Utama

Tahun Terbit         : Desember 2004

Kota Terbit           : Bandung

Editor                   : Ajip Rosidi

Warna Cover        : Coklat muda dengan coklat kekuning-kuningan di tengahnya

Gambar Cover     : Gambar baju daerah dan payung

Ukuran Buku       : 20,6 cm x 14,3 cm

Tebal Buku           : 1 cm.

Tebal Halaman    : 190 halaman

Buku yang merupakan kumpulan dari hasil penelitian – penelitian ini mempunyai cover berwarna coklat muda, dan adapun gambar cover buku ini yaitu baju kebesaran yang digunakan para bupati di Priangan pada zaman itu serta songsonng ( payung kebesaran ) yang digunakan untuk acara – acara resmi pada zaman itu, jika dilihat dari pembahasannya buku ini terdiri dari enam bab, meskipun hanya 6 bab buku ini sangat cukup untuk memahami keadaan bupati di Priangan pada zaman kolonialime disertai dengan beberapa kajian lainnya mengenai budaya Sunda yaitu sebagai berikut:

Bab I     : Bupati di Priangan

Bab II    : R.AA Wiratanungirat jeung rawa lakbok

Bab III  : Keutamaan istri

Bab IV  : Perkembangan bahasa dan sastra

Bab V   : Musik sunda di era globalisasi

Bab VI             : Silsilah prabu siliwangi

 

BAB II

RESUME

Buku Bupati di Priangan dan Kajian lainnya mengenai Budaya Sunda ini terdiri dari enam bab dengan inti sarinya sebagai berikut:

Bab I

BUPATI DI PRIANGAN

Priangan adalah salah satu daerah Jawa Barat denngan luas wilayah lebih-kurang 21.500 kilometer persegi atau kira – kira seperenam dari luas pulau Jawa. Sebelum Priangan jatuh kedalam kekuasaan Mataram, wilayah itu meliputi daerah antara Sungai Cipamali sebelah Timur dan Sungai Cisadane sebelah Barat, kecual;i daerah Pakuan Pajajaran (daerah Bogor sekarang), Jakarta, dan Cirebon.

Pada zaman Mataram dikenal dua macam sebutan bupati. Pertama, wedana bupati, yaitu bupati yang mengepalai sejumlah bupati ( kepala daerah ) dalam wilayah teritorial tertentu. Kedua, bupati saja yaitu sebutan untuk kepala – kepala daerah yang  memimpin kabupaten di wilayah mancanegara. Bupati di Pulau Jawa dan khususnya di Priangan mempunyai kedudukan dan peranan penting serta unik dalam penyesuaian budaya sendiri terhadap modernisasi yang ditimbulkan oleh pemerintah kolonial.

Dibawah kekuasaan Mataram, bupati di Priangan merupakan Elite penguasa yang memiliki otoritas penuh untuk memerintah di daerah kekuasaannya. Hal ini disebabkan bupati – bupati di Priangan sejajar dengan bupati – bupati di daerah mancanegara yang memiliki kekuasaan besar. Ada dua faktor dasar yang menyebabkan bupati di daerah mancanegara memiliki kekuasaan besar. Pertama, karena struktur pemerintahan Mataram merupakan garis hierarkis, terdiri atas unit – unit kekuasaan yang terpisah – pisah. Kedua, besarnya kekuasaan kepala daerah di mancanegara disebabkan oleh beberapa kondisi, yaitu letak daerah mancanegara jauh dari pusat kekuasaan dan belum ada sarana transportasi dan komunikasiyang memadai.  Kedudukan bupati sebagai penguasa daerah, digunakan oleh pemerintah kolonial sebagai perantara pemerintah dengan masyarakat pribumi dalam pelaksanaan eksploitasinya.

Kedudukan bupati di Priangan cenderung menurun pada bagian akhir kekuasaan Kompeni. Adapun awal dari kekuasaan kompeni di Priangan ini diawali setelah meninggalnya Sultan Agung meninggal (1645) yang menyebabkan Mataram berangsur – angsur menjadi lemah akibat kemelut yang terjadi di dalam kerajaan dan serangan dari luar. Wilayah priangan jatuh ketangan Kopeni dalam dua tahap akibat perjanjian Mataram – Kompeni tahun 1677 dan 1705. Pada tahap pertama kompeni memperoleh wilayah Priangan Barat dan Tengah. Pada tahap kedua Kompeni menguasai wilayah Priangan Timur dan Cirebon. Pada mulanya Mataram menyerahkan daerah Priangan kepada Kompeni hanya sebagai pinjaman. Tetapi karena Mataram bertambah lemah, maka penguasa kerajaan itu makin sering meminta bantuanke Kompeni. Akibatnya, Kompeni berkuasa penuh atas wilayah Mataram termasuk Priangan. Akan tetapi, penurunan itu hanya terjadi pada kedudukan bupati sebagai kepala daerah.

Pada abad ke-19, kedudukan bupati mengalami masa turun- naik, diawali oleh perubahan drastis, dari bupati sebagais kepala daerah menjadi bupati sebagai aparat pemerintah kolonial ( pemerintah Hindia – Belanda). Perubahan itu terjadi akibat kebijakan pemerintah kolonial yang berupaya untuk menjalankan sistem pemerintahan langsung.

Upaya pemerintah kolonial ternyata gagal akibat kuatnya kedudukan dan peranan bupati sebagai pemimpin tradisional serta ikatan feodal antara bupati dengan rakyat. Namun, struktur pemerintahan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial mengakibatkan kekuasaan bupati menjadi berkurang. Kedudukan dan kekuasaan bupati sebagai kepala daerah merosot akibat proses birokrasi pemerintah kolonial.

Sistem pemerintahan tak langsung yang terpaksa dijalankan oleh pemerintahan kolonial, menyebabkan bupati berperan sebagai perantara pihak kolonial dengan lembaga tradisional ( komunitas desa ). Dalam hal ini bupati harus memainkan peran ganda. Selaku pemimpin tradisional, bupati harus bersikap dan bertindak dalam ikatan feodal tradisional. Sebagai aparat pemerintah kolonial bupati harus menjalankan fungsi dan peranan sesuai dengan status tersebut. Disinilah letak keunikan posisi bupati pada masa kekuasaan kolonial, khususnya pada abad ke-19.

Adanya fungsi ganda bupati menyebabkan para bupati memegang peranan penting, baik di bidang politik maupun di bidang ekonomi dan sosial budaya. Dalam bidanng politik, bupati berperan sebagai basis kekuasaan pemerintah kolonial. Di bidang ekonomi, bupati di priangan memegang peranan penting dalam mekanisme produksi hasil bumi, terutama kopi, karena pemerintah kolonial mempertahankan Preangerstelsel ( Sistem Priangan ). Dalam bidang sosial budaya, bupati berperan sebagai innovator dalam proses akulturasi kebudayaan antara budaya tradisional Sunda di satu pihak dengan budaya Barat di pihak lain.

Dipertahankannya Preangerstelsel, pada satu sisi menyebabkan kedudukan bupati di Priangan berbeda dengan bupati di daerah lain. Pada sisi lain, berlangsungnya Preangerstelsel menyebakan bupati dapat mempertahankan prestise, gaya hidup, dan pengaruh terhadap rakyat sebagai bentuk otoritas yang sah, paling tidak otoritas sebagai pemimpin tradisional.

Meskipun kedudukan formal bupati pada abad ke-18 secara politis mengalami penurunan, tetapi peranan bupati bagi Kompeni tetap penting. Bupati dengan charisma pribadinya merupakan basis kekuatan untuk menggerakkan rakyat, sedangkan Kompeni tidak memiliki pengaruh terhadap rakyat, karena ruang lingkkup kekuasaanya hanya sampai bupati. Kedudukan bupati pada abad ke – 19 juga mengalami masa turun – naik, hal ini sejalan dengan silih bergantinya pemimpin pemerintahan dengan politik yang berbeda – beda, tetapi prestise dan pengaruh bupati terhadap rakyat tidak berubah, bahkan bertambah besar. Simbol – simbol berupa gelar kepangkatan dan atribut – atribut kebesaran lain yang diberikan oleh pemerintah kolonial kepada para bupati, seara politis justru menambah prestise dan memperbesar wibawa atau pengaruh bupati terhadap rakyat. Pemberian simbol – simbol kebesaran itu berarti pemerintahan kolonial justru memperkuat feodalisme di kalangan bupati.

Sesungguhnya kebijakan pemerintah kolonial itu memiliki dua tujuan. Pertama, untuk memperbesar loyalitas para bupati kepada pemerintah. Kedua, agar bupati berperan lebih aktif dalam prases produksi hasil tanaman wajib. Dalam prases itu, bupati menduduki posisi dan memegang peranan penting sebagai “ kunci” keberhasilan eksploitasi kolonial. Bagi bupati, hal itu justru menyebabkan mereka mampu memelihara dan mempertahankan konsensus masyarakat akan status bupati. Dalam pandangan masyarakat tradisional, kedudukan bupati bersifat “ sacral “. Pandangan itu diperkuat oleh kenyataan bahwa jabatan bupati berlangsung secara turun – menurun, bahkan berupaya untuk menghapuskan jabatan tersebut.

Hal itu menunjukkan keunikan posisi bupati dan peranan pentingnnya dalam hubungan kekkuasaan dan kepentingan pemerintah colonial- bupati – rakyat. Dalam hubungan itu terjadi ketergantungan satu pihak pada pihak lain. Berhasil tidaknya kehendak pemerintah kolonial sanngat bergantung pada bupati. Sebaliknya, kewajiban dan kehidupan bupati banyak bergantung pada kebijakan pemerintahan colonial. Pada sisi lain, berhasil tidaknya bupati merealisasikan kehendak pemerintahan kolonial bergantung pada kepatuhan rakyat. Sebaliknya, kehidupan rakyat banyak bergantung pada kepemimpinan bupati.

Dalam hubungan ketiga pihak itulah makna pentingnya kedudukan (posisi) dan peranan bupati di Priangan pada masa kolonial, khususnya sampai dengan akhir abad ke-19, baik bagi pemerintah kolonial maupun bagi masyarakat tradisional. Pada dasarnya, hal itu pula yang menyebabkan pemerintah kolonial tidak kuasa mencabut kedudukan bupati sebagai kepala daerah, apalagi sebagai pemimpin tradisional yang kharismatis.

Hal – hal tersebut menunjukkan bahwa perubahan dalam kedudukan bupati, baik pada zaman kekuasaan Kompeni maupun pada zaman pemerintah Hindia Belanda, hanya mengangkut kedudukan bupati sebagai kepala daerah. Kedudukan bupati sebagai pemimpin tradisioanal tetap kuat karena berakar pada struktur sosial. Sebagai pemimpin tradisional bupati menduduki status tertinggi dalam struktur sosial tradisional. Kedudukan itu diperkuat oleh ikatan feodal antara bupati dengan rakyat yang melembaga menjadi tradisi, bahkan diperkuat lagi oleh kebijakan tertentu pemerintah colonial. Faktor – faktor tersebut menyebabkan jabatan bupati secara turun – temurun terus berlangsung paling tidak sampai dengan akhir abad ke- 19.

Kinerja para bupati juga menunjukkan bahwa bupati Priangan pada umumnya selain sebagai aparat pemerintah colonial, mereka juga tetap melaksanakan fungsi sebagai pelindung rakyat. Contohnnya dalam memajukan bidang pendidikan di Priangan, Bupati Sumedang Pangeran Suriakusumah Adinata (1836 – 1882) membangun sebuah sekolah. Beliau di kenal sebagai pelopor pendiri sekolah di Priangan. Bahkan ada sekolah yang dibangun atas  biaya sendiri, yang salah satu gurunya adalah bangsa Belanda (G. Warnaar). Bupati Bandung juga Raden Adipati Wiranatakusumah (1846 – 1874) berhasil meningkatkan produksi kopi, memajukan pertanian dan pembangunan daerah. Begitu juga dengan penggantinya Raden Adipati Kusumadilaga (1874 – 1893) berhasil memajukan ekonomi rakyat melalui koperasi. Bupati Limbangan (Garut), Raden Adipati Wiratanudatar (1871 – 1915) memajukan rakyatnya dalam urusan perdagangan dan bidang pendidikan.keberhasilan para bupati tersebut menunjukkan bahwa sekalipun mereka menjadi objek kekuasaan colonial tetapi mereka tetap memiliki kekuasaan untuk menggerakkan rakyat sebagai objek kekuasaan bupati. Jadi dapat dikatakan bahwa anggapan yang menyatakan bahwa bupati zaman kolonial adalah antek kolonial semata – mata dan pemeras rakyat, adalah anggapan atau generalisasi yang keliru, karena tidak sesuai dengan fakta sejarah.

Bab II

R.A.A WINATATUNINGRAT JEUNG RAWA LAKBOK

            Almarhum R.Muh.Sabri Wiraatmadja (1875-1954), pemimpin pensiunan Padaherang, Banjar, meninggalkan satu tulisan naskah tentang dirinya yang berupa tulisan berbagai ungkapan mengenai perkara dibukanya Rawa Lakbok Kidul oleh R.A.A. Wiratanuningrat (1887-1937), bupati Tasikmalaya. Naskah itu berisi 561 bait, yang ditulis berurutan dari awal dibukanya Lakbok pada tahun 1925 sampai meninggalnya R.A.A. Wiratanuningrat pada tahun 1937. Naskah itu isinya menggambarkan macam-macam kejadian dan kegiatan penting yang ada hubungannya dengan perkembangan Rawa Lakbok pada waktu itu.

            Ada maksudnya mengungkapkan asal-usul dibukanya Lakbok. Pertama, menjelaskan karya sastra unik berbagai ungkapan mengenai berupa informasi kronologis yang ditulis oleh salah satu orang yang menyaksikan secara langsung dalam kegiatan mengembangkan satu wilayah (lingkungan Lakbok di Ciamis selatan). Informasi ini bisa menambah data untuk menyusun sejarah priangan timur. Kedua, mengingatkan pada salah satu pemimpin Sukapura, yaitu Dalem R.A.A. Wiratanuningrat yang memegang jabatan Bupati Sukapura ke-14 dari tahun 1908 sampai tahun 1937. Dirinya pada jaman sebelum adanya teknologi dan informasi, berani membuka rawa yang menakutkan yang luasnya 30.000 bau yang terkenal senagai tempat tinggal hantu dan tempat wabah penyakit malaria, sampai pada salah satu waktu bisa memberikan manfaat untuk kehidupan masyarakat. Benar-benar hanya didasari tekad dan keinginan yang kuat, kerja yang teliti, pengaruh yang luas dengan mendapatkan dukungan dari setiap rakyat Ciamis Selatan, Rawa Lakbok yang menakutkan itu bisa ditaklukan untuk sementara waktu, bahkan sempat terkenal sebagai “gudang padi” untuk Priangan Timur. Itu semua menjelaskan prestasi yang besar pada jaman itu yaitu Rawa Lakbok yang bermanfaat. Oleh sebab itu, R.A.A. Wiratanuningrat dan Rawa Lakbok tidak bias dipisahkan.

Naskah “Ngabukbak Lakbok”

            Aslinya naskah tersebut tidak mempunyai judul, tapi dilingkungan keluarga suka disebut “Babad Lakbok”. Selanjutnya kita sebut saja naskah “Ngabukbak Lakbok”, sebab isinya menceritakan dibukanya hutan Lakbok menjadi desa serta wilayah pertanian. Naskah ini ditulisnya oleh tulisan tangan menggunakan huruf latin, Arab dan huruf Sunda pada jilid 5-6. Meneliti jejak tulisannya kebanyakan menggunakan tinta dan pena (kalam), sebagian kecil menggunakan pensil. Naskah “Ngabukbak Lakbok” terdiri dari 561 bait pada tembang-tembang (pupuh) Kinanti, Sinom, Asmarandana, Dangdanggula, Pangkur, Durma, Magatru dan Maskumambang. Naskah ini berupa tulisan beberapa ungkapan yang ditulisnya mencicil dalam kurun waktu 12 tahun dari awal hal tersulit membuka Lakbok tahun 1925 sampai meninggalnya Dalem R.A.A. Wiratanuningrat tahun 1937. Oleh sebab itu, naskah ini bukan berupa “doneng sasakala” atau “roman sejarah” melainkan “catatan faktual berkala” satu orang yang meneliti dan mengalami sendiri perkembangan Rawa Lakbok. Menurut (R.A.A. Wiratanuningrat) yang menulis naskah sejarah perkembangan Rawa Lakbok sudah terdengar oleh Bupati dengan selengkapnya dapat pendukung. Kalau begitu cepatlah dating ke daerah Padaherang.

            Mengenai isi naskah “Ngabukbak Lakbok” garis besarnya menceritakan macam-macam kejadian dan kegiatan dari awal mulai dibukanya Lakbok sampai bias memberikan hasil. Seperti: keadaan daerah Lakbok sebelum dibuka, survey ke daerah-daerah yang akan dibuka, sistem pembagian tanah, membuat jalan dan mendirikan jembatan, keadaan daerah Lakbok Selatan sesudah dibuka, pesta syukuran, pergantian camat dan kepala distrik yang bertugas dalam membangun Rawa Lakbok Selatan, dan keadaan Bupati dari mulai sakit sampai dia meninggal.

RD. MUH. SABRI WIRAATMADJA

            Dilahirkan tahun 1875 di Manonjaya, putra Rd. Wangsadisastra yang pada pertengahan abad ke-19 pernah menjabat menjadi Camat daerah Cigugur, satu wilayah tepi laut selatan sebelah sana Pangandaran. Pada saat itu, tempat tersebut sangat jauh dari mana pun. Ibunya Arsawulan, keturunan Sukapura, sedangakn Bapaknya keturunan Bogor. Tidak seperti sodara-sodaranya yang mencari ilmu disekolah, dia malahan memilih mencari ilmu sendiri yaitu ilmu agama ikut bersama pamannya yang menjadi pemimpin di Padaherang. Pada akhirnya dijodohkanlah Rd. Muh. Sabri wiraatmadja dengan anak pamannya serta terpilih menjadi pemimpin menggantikan pamannya yang sudah meninggal. Dalam penyebaran agam islam dikalangan masyarakat daerah selatan yang masih banyak menganut kepercayaan leluhur, sangatlah menjadi hambatan bagi Rd. Muh. Sabri wiraatmadja dalam menyebarkan agama islam. Akan tetapi, dengan dilakukan bentuk pendekatan, dengan menjadikan sebagai sodara dan sahabat, akhirnya masyarakat mau menerima ajaran agama yang beliau sebarkan. Sampai pada akhirnya masyarakat tersebut sudah mulai bias membaca Al-Quran dan suka mengaji.

            Pada tanggal 1 September 1954, Rd. Muh. Sabri wiraatmadja (yang menulis naskah “Ngabukbak Lakbok”) meninggal pada usia 80 tahun di Bandung. Sampai dengan meninggalnya Rd. Muh. Sabri wiraatmadja tidak pernah lagi keliatan menulis perkara yang ada kaitannya dengan Lakbok, kecuali macam-macam pidato dan amanat untuk keperluan masyarakat. Sepertinya semangat kreativitasna telah tidak ada.

            Sesudah meninggalnya penulis naskah “Ngabukbak Lakbok”, naskah-naskahnya disimpan oleh anak-anaknya, terus ditranskip, dan beres diketik ulang pada tahun 1960. Sekarang transkipnya ada disalah satu anak dari penulis. Akan tetapi, naskah aslinya yang ditulis tangan tinggal ada satu buku atau satu jilid, yang lainnya tidak diketemukan lagi.

 

Bab III

KAUTAMAAN ISTERI

Konsep Pendidikan Raden Dewi Sartika

Tentang Dewi Sartika

Karena Dewi Sartika dan adanya kongres perempuan di Solo maka bulan Desember di tetapkan menjadi hari ibu, Dewi Sartika adalah anak bangsawan, sempat sekolah di kelas satu sebentar. Raden Sartika-pun mendirikan sekolah khusus untuk anak-anak perempuan yang dibantu pejabat-pejabat pribumi dan colonial.

Yang bernama “sakola isteri”, dan sempat berganti nama menjadi “kautamaan isteri”. Atas jasanya R.Dewi Sartika ditetapkan menjadi pahlawan wanita. Sekolahnyapun di bangun bukan hanya ditatar sunda saja melainkan diluar tatar sunda.

R.Dewi sartika menulis 2 buku, buku yang pertama berbahasa sunda yang berjudul “buku kautamaan isteri (1912)” dan yang kedua berbahasa belanda yang berjudul “de inlandsche vrouw (wanita bumiputera ‘1914’)”.

Pengantar Buku “Kautamaan Isteri”

Di pribumi (bangsa Indonesia), yang tergolong wanita utama itu hanya sebagian saja, itupun dari kalangan menak dan orang kaya yang punya kemampuan untuk mengejar keutamaan atau kebahagiaan cukup besar.

Namun yang terjadi pada rakyat kecil, mereka itu tidak tau apa-apa tentang tata cara wanita yang utama, kalaupun tahu hanya dikira-kira saja, rakyat yang tinggal di dekat kota sering meniru yang baik dari kalangan menak, dan itu berarti para rakyat kecilpun ingin maju, namun beda dalam mendapatkan rezeki.

Menurut orang tua, jika diperhatikan para menak itu mempunyai asal-usul atau dasar tujuh macam yang oleh pengarang berbahasa melayu disebut bangsawan, hartawan, budiman, setiawan, gunawan, dermawan, dan sastrawan.

Melihat dari tulisannya, Raden Dewi Sartika mempunyai harapan, jika kaum wanita kalangan menak bersatu untuk memajukan rakyat kecil, tentu lambat laun penduduk pribumi akan maju, maju pengetahuan, kecakapan, dan minat kerja mereka, tingkah laku dan tatacara hidup merekapun baik, singkatnya hidup mereka selamat.

Cara untuk memajukan rakyat yaitu harus ada tempatnya atau sekolahnya. Yang dimaksud dengan pengajaran ialah pengetahuan atau alat untuk membereskan, memperbaiki dan memajukan segala macam masalah. Seperti kayu yang kasar yang dapat diperhalus oleh sugu, tanaman pirang harus dipupuk, yang bodoh harus diberi pelajaran, oleh karenanya pendidikan itu makin sempurna makin baik hasilnya.

Adapun sekolah yang pertama kali didirikan bagi anak perempuan pribumi ialah di bandung, lamanya sudah 7 tahun. Lama kemudian ada lagi sekolah wanita di pulau jawa, yaitu dikarang anyar dan bogor. Menurut berita berdiri pula sekolah wanita di serang dan ciamis.

Pada ulang tahun ke-7 sekolah tersebut (jubilieum). Segala hasil kerajinan dan keterampilan anak-anak sekolah wanita dipamerkan kepada hadirin. Banyak pembesar dan menak beserta isteri-isteri mereka yang menghadiri perayaan itu, begitu pula banyak rakyat dari pedesaan yang datang ketempat itu sehingga banyak yang pulang lagi karena kehabisan tempat, hal itu menjadi ciri bahwa mereka semua menyetujui kemajuan anak sekolah wanita itu. Raden Dewi Sartika mengharapkan dari buku ini, bahwa buku ini bisa menjadi motivasi bagi para menak untuk memajukan kaum wanita.

Kanjeng Tuan Inspektur Sekolah C.Den Hamer orang yang pertama kalinya mendirikan sekolah bagi anak-anak wanita pribumi (bangsa Indonesia) di Bandung. Dan Dewi Sartika menjadi guru atas persetujuan Kanjeng Bupati Bandung Raden Adipati Martanagara.

Adapun usaha yang dilaksanakan untuk mendidik anak-anak pribumi tidak ada lagi kecuali 2 macam, yaitu menasehati dan memberi contoh. Seperti ungkapan bahasa belanda: “leeringen wekken, voorbeelden trekken”, artinya bahwa nasehat itu menumbuhkan niat, sedangkan contoh menimbulkan keinginan.

Nasehat dan contoh yang sedang dilaksanakan oleh penulis, laksana perahu kecilyang dinaiki oleh anak-anak perempuan (murid Raden Dewi Sartika) akan berlayar ke negara kemajuan, mengarungi samudera luas yang berombak besar, tiba-tiba datang kapal besar dan kokoh yang membimbing dan menunjukan jalan ke arah negara kemajuan.

Yang di maksud kapal besar itu adalah bahwa sekarang ini di Bandung berdiri organisasi yang diatur oleh Tuan Inspektur Sekolah J.C.J.Van Bemmel. Tujuannya ialah akan memajukan anak-anak perempuan. Oleh karena itu, organisasi tersebut dinamai oleh Kanjeng Bupati  Bandung (R.A.A.Martanagara) “kautamaan isteri’.

Namun masyarakat menganggap sekolah tidak penting karena mereka belum mengetahui benar gunanya sekolah. Disangkanya disekolah itu hanya diajarkan menulis, membaca dan berhitung. Selain dari pelajaran pokok tersebut, banyak lagi mata pelajaran yang perlu bagi keutamaan hidup manusia.

Sekolah disebut “de bron vat het leven(modal hidup)”, oleh Kanjeng Tuan Inspektur. Jelasnya, sekolah itu modal hidup, sebab selain pelajaran pokok, anak itu diberi pelajaran pokok, anak-anak itu diberi pelajaran lain seperti: kebersihan, tatakrama, berbicara, disiplin dalam pemakaian waktu, taat, gembira, baik hati, hemat dan berfikir atau memilih.

Dengan berjalannya waktu di sekolah wanita bandung ditambah 3 macam pelajaran, yaitu keterampilan wanita, rumah tangga dan masak. Sifat anak berdasarkan pula atas pergaulan dan pendidikannya misalnya bergaul dengan kalangan menak tentu akan belajar bertatakrama seperti kalangan menak dan bisa pula menjadi menak. Tetapi sebaliknya, walaupun anak menak jika tidak dididik, tidak disekolahkan, pribadinya tidak akan dapat menjadi menak.

Jika bangsa kita ingin bertambah maju maka kaum wanitanya harus maju pula, pintar seperti kaum laki-laki, sebab kaum wanita itu akan menjadi ibu. Merekalah yang paling dahulu mengajarkan pengetahuan kepada manusia, yaitub kepada anak-anak mereka, baik laki-laki maupun perempuan.

SUMBANGSIH RADEN DEWI SARTIKA

Kepala Sekolah Puteri Di Bandung

Wanita Bumiputera

Di samping berpendidikan, wanita itu harus terpelajar pula. Perluasan pengetahuan akan berpengaruh terhadap moral wanita. Pengetahuan demikian diperoleh hanya di sekolah. Rencana pengajaran, proses belajar dan metode pengajaran seluruhnya terserah kepada kebijaksanaan dan kemampuan orang tua, padahal mereka tidak mempelajari secara khusus hal-hal tersebut.

            Faktor yang besar pengaruhnya yaitu terdapat kecenderungan bahwa kaum tua tidak dapat dengan rela melepaskan kebiasaan-kebiasaan lama. Jelas mereka tidak pernah bersekolah, namun kaum ibu menjadi ibu rumah tangga yang baik. Mereka sungguh hidup berbahagia dengan suami atau ayah dari puteri mereka selama puluhan tahun. Pendidikan sekolah membangkitkan sikap bebas pada sang anak. Justru sikap bebas itulah yang mereka khawatirkan, karena mereka takut bahwa mereka lebih mudah tergoda untuk berbuat yang tidak baik. Juga, para ayah beranggapan demikian.

Ada satu hal lagi yang menarik perhatian. Kaum kuna itu beranggapan bahwa dengan bersekolah rasa  susila anak perempuan justru akan mengalami kemunduran. Karena itu mereka lebih suka meniru kebiasaan orang Arab yang dengan gampang memingit anak mereka. Mereka berbuat demikian, karena menurut pengetahuan dan pendapat mereka, itulah cara yang paling baik untuk meningkatkan moralitas anak perempuan mereka ke taraf yang lebih tinggi. Merupakan tugas yang sangat berat untuk mendorong orang-orang tua ke arah pikiran lain yang lebih baik.

Meskipun orang seringkali memperlakukan kaum wanita sebagai mainan yang ditakdirkan untuk menyerah kepada kehendak sewenang-wenang. Mereka beranggapan bahwa lebih baik membiarkan kaum wanita tetap bodoh agar mereka di kemudian hari tidak akan bersikap terlalu berani terhadap suaminya. Juga ada orang-orang yang berpendapat bahwa anak disekolah hanya dididik secara jasmaniah, sedangkan budi pekertinya hampir diabaikan. Semuanya ini merupakan hambatan terhadap gerakan memajukan kaum wanita dan akan dapat membuat banyak orang berputus asa.

KONSEP PENDIDIKAN RADEN DEWI SARTIKA

Endang Saifuddin Anshari,M.A. dalam tulisannya pada Bulletin Masjid Salman ITB awal tahun 1980-an menyatakan bahwa keunggulan R.Dewi Sartika dibandingkan dengan R.A.Kartini dalam rangka upaya memajukan kaum wanita Indonesia adalah bahwa R.Dewi Sartika telah mencapai tingkat yang konkrit dalam bentuk terwujudnya lembaga pendidikan yang dinamai sakola isteri (sekolah wanita), sedangkan R.A.Kartini baru dalam tingkat pemikiran dan keinginan. Sementara itu, seorang sejarawan senior di Bandung pernah mengatakan bahwa kelemahan R.Dewi Sartika terletak pada belum adanya konsep pendidikan yang mendasari lembaga pendidikan yang didirikannnya.

Edi S. Ekadjati berhasil menemukan dua karya tulis dewi sartika yang justru keseluruhan isinya dapat dipandang sebagai konsep pendidikan yang menjadi dasar pemikiran dan pedoman kerja lembaga pendidikan khusus anak-anak perempuan yang didirikan dan dipimpinnya.

Pendekatan Lingkungan

Dalam rangka menyusun konsep pendidikan bagi kaum wanita, Dewi Sartika melakukan pendekatan terhadap lingkungan sekitarnya, terutama lingkungan budaya. Ia melakukan pengamatan dan analitis terhadap situasi dan kondisi kehidupan masyarakat sekitarnya (masyarakat sunda), kedudukan dan peranan wanita didalam masyarakat itu, pandangan masyarakat terhadap pendidikan kaum wanita, serta arah perkembangan pendidikan dan kemajuan kaum wanitanya.

Pada masa itu sedang terjadi proses perubahan yang bisa membawa perbaikan dan kemajuan kepada kehidupan wanita, jika mereka mengikuti arus perubahan itu. Perubahan merupakan dampak positif dari dibukanya sekolah-sekolah model barat bagi masyarakat pribumi sejak pertengahan abad ke-19.

Tujuan Dewi Sartika memajukan kaum wanita melalui pendidikan ialah hendak membentuk wanita utama (kautamaan isteri) di kalangan seluruh lapisan masyarakat bumiputera.

Wanita utama adalah wanita yang mengetahui kebutuhannya sendiri, hak dan kewajibannya didalam lingkungan masyarakat, dan dalam keadaan tertentu mampu berdiri sendiri. Keutamaan wanita itu bisa bermacam-macam, tergantung pada klasifikasi social, adat istiadat, pendidikan dan pergaulan.

Bab IV

KEBUDAYAAN DAN SASTERA SUNDA

Pemberian hadiah sastera “rancage” memberikan kesempatan bagi saya untuk mengikuti perkembangan kesenian dan sastera yang berkembang di Indonesia. Perlu diketahui bahwa karya sastera bahasa daerah yang dinilai dalam “rancage” adalah karya dalam bentuk buku, hal ini untuk menyempitkan ruang bagi penulis karena banyaknya majalah ataupun artikel berbahasa daerah, kalau harus menilai semua terus terang kami tak mampu. Sepanjang pengamatan  kami karya sastera modern yang berkembang hanya dalam bahasa jawa, sunda maupun bali saja yang diterbitkan oleh penerbit buku di Indonesia. Yang dimaksud modern disini adalah penulis karya sastera daerah yang hidup pada era sekarang yang sudah terpengaruh barat, meskipun karya-karyanya berupa tulisan tradisional tapi bau klasik dari karya mereka tidakbener-benar murni tradisional seperti buatan era sebelum kemerdekaan ataupun setelahnya.

Beberapa kenyataan menarik

            Ternyata para sasterawan daerah yang menulis karyanya tidak semua dari generasi tua, memang ada generasi dari era 20an bahkan lebih tua, tetapi setiap era pasti mempunyai sastrawan daerah yang mencintai dan berminat pada sastera darahnya seperti di era 60an, 70an bahkan era 80an. Pada generasi tua mereka masih belajar bahasa daerah sebagai pengantar belajar mereka mungkin pada sekolah rakyat yang didirikan oleh Belanda, banyak juga buku-buku berbahasa daerah karena pada masanya rakyat lebih tertarik pada bahasa daerah dari pada bahasa inggris maupun bahasa asing lainnya bahkan bahasa Indonesia sendiri.

Pada era 40an bahasa daerah hanya bekisar pada tutur para penutur dari daerah asalnya karena banyak buku berbahasa daerah yang hancur dimakan waktu, balai pustaka sebagai penerbit buku indukan di Indonesia sudah jarang sekali menerbitkan buku berbahasa daerah. Dengan demikian generasi ini tidak banyak bertemu dengan karya-karya kedaerahan karena keterbatasan media. Era 60an lebih repot lagi, tuntutan kurikulum 75 membuat semua bahasa pengantar sekolah tingkat di Indonesia menjadi bahasa Indonesia yang berperan sebagai bahasa nasional dan menjadikan bahasa daerah sebagai mata pelajaran.

Penerbitan bahasa daerah

            Penerbitan dapat dibagi menjadi dua, yaitu penerbitan surat kabar dan buku. Masa sekarang tidak ada selembarpun surat kabar yang berbahasa daerah, pada masa penjajahan terdapat beberapa surat kabar berbahasa daerah yang beredar di jawa dan sunda seperti bromortani dan siliwangi. Pada era 60an sampai 80an ada yang mencoba menerbitkan surat kabar berbahasa daerah namun hidupnya merana. Yang masih ada adalah penerbitan majalah dan tabloid berbahasa daerah seperti panjebar semangat, joyoboyo dan djoko lodang sebagai tabloid.

Umumnya penerbitan surat kabar di Indonesia hanya berdasarkan kecintaan terhadap bahasa dan rasa ingin membudidayakan sastera daerah namun tidak dengan tenaga penerbitan yang profesional mengakibatkan penerbitan-penerbitan itu banyak yang gulung tikar.

            Pada penerbitan buku pun tidak jauh berbeda, umumnya penerbit buku daerah adalah orang yang mencintai bahasa daerah dan hasilnya pada kebangkrutan, sementara penerbit komersil lebih memilih mengeluarkan buku teks ataupun lembar kerja siswa yang biasanya dibutuhkan pada pembelajaran disekolah ataupun lembaga pendidikan lainnya. Inilah yang harusnya menjadi perhatian pemerintah bila ingin terus mempertahankan sastera daerah maupun kebudayaan, bagaimana cara mengembangkan minat kedaerahan di Indonesia ini, pekerjaan rumah bagi para pejabat pemerintahan pusat maupun daerah dan para petutur bahasa yang masih bertahan.

Radio dan Televisi

            Media yang potensial yang dapat mengembangkan bahasa dan sastera daerah yaitu radio dan televisi. Sampai sekarang di radio masih terdapat siaran yang memakai bahasa daerah sebagai pengantar ataupun iklan-iklan yang memakai bahasa daerah, namun sejauh ini belum ada radio yang secara full menggunakan bahasa daerah kecuali bahasa jawa. Dalam siaran televisi TVRI sebagai andalan indonesia waktu itu tidak dapat menayangkan acara-acara berbahasa daerah karena terbeluenggu motonya yaitu berbahasa indonesia yang baik dan benar, kalu pun ada acara pentas kesenian daerah, hal tersebut disajikan dengan pengantar bahasa indonesia dan hal itu menjadi kurang menarik. Adapun televisi swasta yang sejauh ini belum ada acara khusus berbahasa daerah kecuali pentas wayang kulit yang berbahasa pengantar bahasa jawa. Mungkin tv swasta pun berpegang pada peraturan pemerintah mengenai bahasa, namun pemerintah kita belum sadar dari tidurnya.

Hari depan bahasa dan sastera daerah

            Sekarang pemerintah terkesan menyerahkan hidup matinya bahasa daerah kepada penuturnya saja, padahal UUD memberikan perlindungan khusus terhadap bahasa daerah dan sasteranya. Para pecinta bahasa daerah tidak bisa terus berpangku tangan pada pemerintahan yang terkesan pasrah terhadap ini, pemerintah hanya menilai kebudayaan daerah sebagai aset pariwisata yang menghasilkan banyak uang, namun tidak dengan pemeliharaannya, seperti yang tercermin sekarang ini. Penerbit buku pun tidak banyak yang minat pada penerbitan buku berbahasa daerah, bila dilihat orang-orang sunda maupun jawa sangat banyak bila mereka menerbitkan buku ke masing masing daerah dan buku mereka hanya dibaca 10% saja mereka sudah mendapat laba yang sangat besar, namun sejauh ini mereka tidak melihat hal itu, yang mereka lihat hanya selera pasar.

Hal lain yaitu minat orang Indonesia terhadap membaca, Indonesia termasuk negara terendah dalam minat baca, tentu ini sebagai tugas kita semua sebagai lapisan masyarakat yang ikut andil di dalamnya juga pemerintahan daerah yang perlu meyemarakan serta peran pemerintah pusat seharusnya mendukung penuh dengan menyediakan fasilitas-fasilitas yang mumpuni. Bila ingin generasi muda kita cinta akan bahasa dan sastera kedaerahannya bahasa daerah disajikan bukan hanya dibuku melainkan juga pada surat kabar, acara radio maupun televisi secara intensif dan ditayangkan secara terus menerus, niscaya ada apresiasi dan minat dari generasi muda Indonesia untuk mempertahankan kebudayaan daerahnya.

BAB V

HUBUNGAN ANTARA SUARA DALAM DAN LUAR DIDALAM MUSIC SUNDA

DI ERA GLOBALISASI

Pengertian musik populer sangat penting di Indonesia, walaupun tidak ditegaskan didalam beberapa industri musik Indonesia, terpusat di jakarta, menetapkan musik populer Indonesia sebagai salah satu dari nasional atau regional. Aliran musik populer nasional, termasuk hardcore, rapp, country, jazz, disco, house, hawai, pop indonesia, keroncong, dangdut, qasidah.

Secara umum liriknya berbahasa indonesia meskipun kadang-kadang dalam bahasa inggris dan dipasarkan khususnya daerah-daerah kota diseluruh Nusantara, dalam bentuk kaset dan CD. Musik-musik internasional datang dari berbagai negara, diantaranya Amerika, Eropa, India dan China yang juga berkembang pesat di Indonesia. Situasi di Indonesia berubah kearah musik populer yang hampir seluruh produknya dari studio rekaman dan pertunjukan langsung itu langka. Musik-musik popular pun diiklankan dalam majalah nasional, koran, stasiun radio lokal dan nasional yang dihadirkan oleh situs internet.

  1. Pop Sunda

Musik populer sunda atau pop sunda sering dijadikan objek penelitian oleh para sarjana luar negeri, kesadaran para sarjana luar negri terhadap budaya sunda sangat tinggi. Dunia musik sunda mempunyai beberapa bentuk musik yang berbeda. Semua musik tersebut mempunyai tata caranya sendiri untuk ditampilkan.

 Dua hal penting yang dikembangkan tahun 1970an dan 1980an, adalah degung kawih dan jaipongan yang menjadi populer di beberapa daerah di Indonesia meskipun menggunakan lagu-lagu bahasa sunda. Alasannya mungkin karena produksi album yang tinggi. Alasan lain adalah karena jumlah populasi masyarakat sunda yang sangat besar dan merupakan suku terbesar kedua di Indonesia setelah Jawa.

Dalam bab ini, akan dijelaskan hubungan antara musik Sunda, nasional dan global juga perbedaan diantaranya.

  1. Perpindahan dan Perjalanan Kebudayaan

Tidak mudah membedakan antara budaya sunda dan pop sunda. Beberapa orang sunda menyebutkan bahwa tidak semua orang sunda terikat pada adat dan fenomena sosial. Perpaduan budaya sunda sangat menarik direfleksikan dalam puisi Bahasa Sunda “Laut Kidul”, dipublikasikan dalam cetakan tahun 1921 di Volksamanak Soenda. Dalam stanza 22 dikatakan:

Perbedaan sindiran sebenarnya hanya satu. Bahasanya hanya satu. Hanya memiliki interpretasi yang berbeda Wantu-wantu sindir mah sindir. Wantu-wantu basa mah sabasa. Ngan beda nu kapiraos.

Dalam stanza 23: masing-masing dari kita memilik pendapat yang berbeda. Semuanya bisa disatukan

  1. Pop Sunda dan Musik Dunia

Mungkin hanya ada sedikit musisi pop sunda yang dikenal masyrakat, diantaranya:

Yus Wiradiredja, seorang guru musik Tembang Sunda Cianjuran di STSI Bandung, dan juga pemenang kontes menyanyi di awal tahun 1980an. Dia juga membuat beberapa rekaman termasuk jaipongan.

Burhan Sukarma yang merupakan pemain suling Cianjuran yang terkenal tahun 1970-1980an. Dia meninggalkan Jawa Barat akhir tahun 1980an dan hijrah ke Amerika Serikat, namun masih sering mengunjungi tanah kelahirannya. Dia membuat beberapa rekaman dengan musik ddunia, seperti salah satunya, suling sunda yang dikombinasikan sitar kacapi sunda, drum sunda, harpa bali dan tabla djembe congas dari bagian lain dunia.

Penyanyi pop dan gitaris asal Inggris Sabah Habas Musthapa (alias Colin Bass) membuat sebuah CD ‘So la li ‘ dengan grup Jugala All Stars dari Bandung pada tahun 2000. Grup ini menggunakan suling bambu, drum, sitar, dan juga biola, gitar akustik dan gitar bass listrik. Lagu-lagunya kebanyakan dalam Bahasa Sunda dan beberapa dalam Bahasa Inggris. Meskipun Sabah mencoba menyanyi dalam bahasa sunda, namaun pada bulan juni 2001, dia mengatakan bahwa bahasa sundanya hanya candaan, karena dengan bahasa yang buruk. Uniknya, band ini menggunakan teks lagu klasik seperti yng digunakan dalam musik Cianjuran. Vokalis sunda, Tati Ani Moegiono, menyanyi dalam bahasa sunda, dan menggunakan gaya sunda yang kental.

 Jadi dapat di simpulkan bahwa musik sunda memiliki banyak perbedaan, diantaranya, musiknya membutuhkan pengaturan sosial. Hal ini berbeda dengan musik kroncong Indonesia, dangdut dan gamad dari Minangkabau. Masih ada banyak kesundaan dalam pop sunda yang diapresiasikan oleh orang-orang sunda.

Bab VI

Silsilah Prabu Siliwangi, Mantera Aji Cakra, Darmapulih Hyang Niskala, dan Ajaran Islam

A.        SILSILAH PRABU WIJAYA

Inilah silsilah keturunan prabu siliwangi. (prabu siliwangi) berputra mundingsari Ageung, (mundingsari Ageung) berputra mundingsari Leutik, (mundingsari Leutik ) berputra Raden panglurah, (raden Panglurah) berputra pucuk umun, (Pucuk umun) berputra Sareupeun negara.

            Sareupeun negara berputra sunan parung, (sunan parung) berputra sunan talaga manggung, (sunan talaga manggung) berputra sunan dampal, (sunan dampal) berputra sunan genteng, (sunan genteng) berputra sunan wanaperih, (sunan wana perih) berputra sunan ciptarengga, (sunan cipta rengga) berputra santoga astra, (santoga astra) berputra Eyang wargasita, (eyang wargasita) bersaudara dengan ki entol nayawangsa.

          B.          MANTRA AJI CAKRA

Ini Panyukat Aji Cakra
Ku Si Naga Nagini

Sang Manon Sang Matongton

Cupu bahuk udang lulus

Ila-ila ku Sang hyang Waruga Bumi

Ila-ila ku Sang Hyang Waruga Lemah

Satitis Waruga Bumi

Satitis Waruga Lemah

Sang awaking na tutunggul

Megar catang megatkeun apus

            C.        MANTRA DARMA PULIH HYANG NISKALA

Ini darma pamulih hyang niskala

Ku aci darma pamulih

Ku aci nusya sakti

Ngageugeuh nusya sakti

Ngageugeuh nusya larang

Aci putih herang jati

Di jero ning jembawasa salira

Salawasna dimanikan

Mangka datang ka bulanna

Mukakeun kowari manik

D.        AJARAN ISLAM

Bismilah hirahman hirahmin

Assahhadu anla ilahlalah

Wassa adu ana mukadaman rasululah

Sun angawruhi satuhune

Ora nu kasine mbah ing

Hanane kang tetep kang langgeng

Kang suci kang luwih suci

Kang murba ing diri

Ning wujud helmu anu suhud

Lah iya maher luhung

Lah iya hora kawula dadi gusti

Lah iya maher luhung

            Adapun isi keseluruhan dari keempat naskah diatas yaitu tentang silsilah keturunan Prabu Siliwangi sampai ke tokoh – tokoh masa islam, mantera Aji Cakra, ajaran dari masa Pra – islam untuk mencapai hidup bahagia di alam abadi, dan ajaran islam.

BAB III

ANALISIS

  1. 1.      Kritik Ekstern

Buku yang berjudul “Bupati di Priangan dan Kajian Lainnya mengenai Budaya Sunda” ini mempunyai cover yang menarik dan sesuai dengan judul bukunya yaitu berupa baju para bupati dan songsong ( payung kebesaran) masyarakat priangan pada zaman itu. Adapun kertas yang digunakan pada buku ini terlihat kualitasnya masih kurang sehingga warnanya buram walaupun usianya masih muda yaitu 7 tahun. Hal tersebut membuat pembaca menjadi kurang tertarik untuyk membaca buku ini. Bahasa yang digunakan pada buku ini bukan hanya bahasa Nasional ( Indonesia ) tetapi juga menggunakan bahasa daerah dan asing. Keanekaragaman bahasa tersebut memang memberikan warna tersendiri bagi buku ini tetapi hal ini menyebabkan kesulitan pembaca dalam memahami isi buku ini apalagi dengan adanya beberapa bab dalam buku ini yang menggunakan bahasa daerah dan bahasa asing sedangkan yang menjadi pembaca buku ini bukan hanya orang sunda dan tidak semua orang mengerti bahasa asing.

Dalam buku ini juga terdapat dua karya tulis Kautamaan Istri dan De Sundanese Vrouw ( Wanita Sunda ) yang diterbitkan masing – masing pertama kali pada tahun 1912 dan 1914. Kedua karya tulis ini juga bersifat dokumenter tetapi yang ironisnya karya tulis tersebut tidak dikenal sebelumnya oleh masyarakat Sunda khususnya dan umumnya masyarakat Indonesia termasuk para sejarawan serta mereka yang mengaku sebagai tokoh Sunda. Hal tersebut membuat kredibilitas kedua karya tulis yang terdapat di dalam buku Bupati di Priangan ini masih perlu dikaji.

Selain itu juga dalam buku ini terdapat beberapa naskah kuno yang menceritakan silsilah Prabu Siliwangi dan ajaran islam di Priangan dengan menggunakan bahasa Sunda Kuno, bahasa Jawa, dan bahasa Arab yang sulit dipahami oleh kita sebagai masyarakat biasa. Walaupun sudah di terjemahkan dalam bahasa Indonesia tetapi masih saja ada beberapa kata atau kalimat yang rancu sehingga pembaca sulit untuk memahami isi dari naska – naskah tersebut.

  1. 2.      Kritik Intern

  Karya tulis ilmiah yang berjudul “Bupati di Priangan: Kedudukan dan Peranannya pada Abad ke-17 – Abad ke-19” ini merupakan bagian dari buku  “Bupati di Priangan dan Kajian lainnya mengenai Budaya Sunda”. Karya tulis tersebut merupakan hasil penelitian dari penulisnya yaitu A. Sobana Hardjasaputra sebagai tesis untuk mencapai gelar magister ( Pendidikan S-2 ) humaniora, khususnya Ilmu Sejarah sehingga kredibilitas buku ini dapat dipertanggungjawabkan karena melalui proses penelitian dan pengujian dalam ujian sidang tesis. Selain itu, dapat dilihat dari banyaknya buku dan artikel yang digunakan penulis sebagai referensi dalam tulisannya ini. Sehingga kita menyimpulkan bahwa karya tulis ini dapat di uji kebenarannya walaupun dalam pencitraannya lebih mengagunngkan kedudukan para bupati sehingga memberikan penjelasan kepada pembacanya bahwa bupati pada zaman kolonialisme semata – mata hanya merupakan antek-antek kompeni dan pemeras rakyat adalah keliru karena tidak sesuai dengan fakta sejarah yang beliau temukan. Sedangkan bagian lain dari buku ini membahas  kedudukan wanita di Priangan serta mengenai kebudayaan Sunda diantaranya, bahasa dan seni.

 Bagian kedua dalam buku ini juga merupakan karya tulis dari beberapa penulis. Dilihat dari isinya karya tulis ini sangat bermanfaat bagi kita untuk menambah wawasan tentang kebudayaan Sunda baik itu dalam aspek pemerintahan pada zaman kolonial, bahasa, dan kesenian. Tetapi apabila dilihat kredibilitas dari karya – karya tulis ini masih memerlukan penelitian karena sebagian dari karya tulis ini tidak mencatumkan referensi tentang tulisannya ini. Kemudian ada kedua karya tulis yang tidak dikenal oleh orang lain bahkan oleh para sejarawan dan tokoh Sunda lainnya. Dalam karya tulis ini juga diperkenalkan pokok – pokok pikiran yang mendasari cita – cita dari sekolah yang didirikan oleh Dewi Sartika pada saat itu.

Secara keseluruhan buku yang berjudul “Bupati di Priangan dan Kajian lainnya mengenai Budaya Sunda” merupakan buku yang isinya sangat bermanfaat bagi kita tentang keadaan pemerintahan di Priangan dan Kebudayaan Sunda pada zaman kolonial  karena memberikan pengetahuan dan pandangan baru terhadap kedudukan bupati dan budaya sunda pada zaman tersebut. Sehingga buku ini pun dapat dijadikan sebagai referensi dan menambah wawasan kita sebagai masyarakat Sunda pada khususnya dan masyarakat Indonesia secara umum atau bahkan orang asing yang tertarik dengan kebudayaan Sunda pada zaman Kolonialisme.

  1. 3.      Kelemahan Buku

Dalam buku yang berjudul Bupati Di Priangan ini menurut kelompok kami ada   kelemahan yang sangat menonjol, yaitu dalam bahasa yang digunakan penulis memang bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia tetapi masih terdapat bahasa sunda, bahasa belanda, dan bahasa inggris. Keanekaragaman bahasa dalam buku ini memang memberikan warna yang berbeda dengan penulisan buku yang lain tetapi karena pembaca buku ini bukan orang sunda saja sehingga mungkin akan mengalami kesulitan dalam memahami isi buku ini, begitu pun dengan bahasa belanda dan bahasa inggris yang kurang dimengerti pembaca, sehingga pembaca memerlukan waktu yang cukup lama untuk  menerjemahkan terlebih dahulu buku tersebut sebelum memahaminya.

4.  Keunggulan Buku

Keunggulan buku ini yaitu bukunya tidak terlalu tebal serta pembahasannya yang menarik tentang kebudayaan Sunda. Buku ini  juga merupakan hasil penelitian dan pandagan orisinil mengenai aspek kebudayaan sunda. Sehingga menambah pengetahuan kita tentang kebudayaan sunda dan dapat dipertanggung jawabkan kredibilitasnya. Sehingga buku ini dapat dijadikan sebagai salah satu referensi atau sumber bagi kita dalam memahami kebudayaan sunda.

BAB IV

KESIMPULAN

Dibawah kekuasaan mataram, bupati di priangan merupakan elite penguasa yang memiliki otoritas penuh untuk memerintah didaerah kekuasaanya. Kondisi itu dimungkinkan oleh sistem pemerintahan kerajaan mataram dan letak geografis priangan yang jauh dari pusat kerajaan tersebut.

Kedudukan bupati dipriangan cenderung menurun pada bagian akhir kekuasaan kompeni, akan tetapi penurun itu hanya terjadi pada kedudukan bupati sebagai kepala daerah, pada abad ke 19 kedudukan bupati mengalami masa turun naik, diawali oleh perubahan drastis, dari bupati sebagai kepala daerah menjadi bupati sebagai aparat kolonial (pemerintah hindia belanda). Perubahan itu terjadi akibat kebijakan pemerintah kolonial belanda.

Selain itu, isi buku ini juga membahas mengenai kedudukan wanita di daerah Priangan serta menjelaskan kebudayaan sunda dalam aspek bahasa dan seni.  Membahas juga tentang silsilah Prabu Siliwangi dan ajaran islam di daerah Priangan yang didapatkan dari naskah kuno yang ditemukan di Kawali, Tasikmalaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: