Islam di Afrika

Islam di Afrika

oleh : Gunawan, Paskasius Fajar. S, Maman Suherman

Sejarah

            Pada awalnya wilayah Afrika telah dihuni oleh bangsa Barbar jauh-jauh abad sebelum datangnya Islam di Afrika. Di dalam sejarah Barbar diartikan sebagai nama bangsa yag bertebaran di dataran Eropa sejak abad ke-3 M. namun sebenrnya asal mula bangsa ini adalah berasal dari asia bagian tengah khususnya Kaukasus. Pada masa itu juga kekuasaan Byzantium di Afrika yaitu Kartago berhasil dikalahkan oleh orang-orang Vandal dengan pimpinan Geiserik.

            Pada masa Nabi Muhammad S.A.W, kontak Islam dengan wilayah Afrika pertama kali adalah ketika para sahabat hijrah ke Abisinia. Di sana mereka mendapat perlakuan yang baik dan hangat dari penguasa Abisinia yaitu Raja Najasy (Negrus). Pada masa khalifah Umar bin Khattab, panglima Amr bin ‘Ash berhasil menguasai Mesir dan mengalahkan tentara Byzantium dan kota Fustat pun menjadi ibu kota Islam pertama di Afrika. Pada masa khalifah Usman bin Affan,  ia mengirimkan Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah yang kemudian bisa mengalahkan tentara Byzantium dalam peperangan di Laut Tengah.

            Akhirnya atas permintaan dari penguasa daerah Byzantium maka diadakanlah gencatan senjata. Hal ini dimaksudkan agar semua wilayah yang telah jatuh ke tangan kaum Muslim bisa direbut kembali. Kemudian pada masa Muawiyah bin Abu Sofyan pendiri dinasti Umayyah mengutus Uqbah bin Nafi’ untuk menjadi gubernur di Afrika pada tahun 666 M, dengan beribu kota di Fustat. Pasukandari Uqbah ini telah memulihkan keadaan di daerah itu menjadi aman dan terkendali sepenuhnya. Namun setelah semuanya berjalan lancar tanpa disangka Uqbah dipecat dan digantikan oleh Abdul Muhajir maka Uqbah pun menghadap kepada Muawiyah dan memprotes pemberhentian dirinya karena ia merasa bahwa ia telah memberikan kemajuan pada kaum Muslim saat itu.

            Saat Abdul Muhajir berkuasa di Ifriqiyah ia malah menghancurkan Kairawan yang dibentuk oleh Uqbah berikut dengan masjid yang tersohornya pula sealah itu kemudian Ia membangunnya kembali. Dia melakukan hal ini adalah bertujuan agar sejarah mencatat namanya sebagai pendiri kota dan masjid Kairawan. Di Afrika sendiri ada beberapa dinasti kecil yang memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan Islam kala itu.

            Awal perkembangan Islam di Afrika dapat dilacak sejak abad ke-7 M ketika Nabi Muhammad SAW menyarankan sejumlah sahabat untuk menghindari penindasan kaum kafir Mekkah dengan hijrah menyebrangi Laut Merah ke Kerajaan Kristen Abisinia (saat ini Ethiopia) yang diperintah oleh al-Najashi. Dalam tradisi Islam, peristiwa ini disebut hijrah pertama. Wilayah Afrika merupakan wilayah pertama yang digunakan oleh kaum Muslimin sebagai tempat berlindung dan wilayah Afrika juga merupakan wilayah pertama penyebaran Islam di luar semenanjung Arab.

Perkembangan Awal Afrika Utara

Tujuh tahun setelah Nabi Muhammad SAW wafat (639 M), bangsa Arab bergerak menuju Afrika. Dalam dua generasi, Islam telah menyebar di Afrika Utara dan seluruh wilayah Maghribi Tengah. Pada abad berikutnya, konsolidasi jaringan perdagangan muslim yang berkaitan dengan garis keturunan, perniagaan, dan persaudaraan sufi, telah sedemikian kuat di Afrika Barat sehingga pengaruh politik dan kekuasaan kaum muslimin begitu besar.

Pada masa pemerintahan Umar II, Gubernur Afrika saat itu, Ismail ibnu Abdullah, bisa menarik orang Berber ke dalam Islam dengan pemerintahannya yang adil. Sebelumnya, Abdallah ibnu Yasin telah merintis dakwah Islam yang bisa merangkul ribuan orang Berber ke dalam Islam.

Afrika Utara merupakan pintu gerbang penyebaran Islam ke Eropa. Dari Afrika Utara lalu ke Spanyol yang termasuk benua Eropa. Penyebaran Islam ke Afrika Utara sudah dimulai sejak khulafaurrasyidin, yaitu pada masa Umar bin Khattab. Pada tahun 640 M Panglima Amr bin Ash berhasil memasuki Mesir. Kemudian pada khalifah Uthman bin Affan penyebaran Islam meluas ke Barqah dan Tripoli. Tapi penaklukan atas kedua kota tersebut tidak berlangsung lama karena Gubernur Romawi berhasil merebut ke dua itu kembali. Karena Gubernur Romawi ini kejam  dan memeras rakyat sehingga rakyat ( penduduk ) meminta bantuan kepada orang – orang Islam. Permintaan itu disanggupi oleh khlalifah Uthman bin Affan. Namun bantuan itu baru bisa terealisasi pada pemerintahan Bani Umayyah yaitu pada masa Muawiyah bin Abi Sufyan.Muawiyah bin Abi Sufyan mempercayakan tugas itu pada panglimanya yang bernama Uqbah ibn Nafi al Fihri . Dan Uqbah ibn Nafi al Fihri berhasil menekan suku barbar dan menghalau pasukan Romawi dari daerah tersebut. Mulai sejak itu Afrika Utara dikuasia oleh Bani Umayyah lalu Bani Abbas, Rustamiyah, Idrisiyah, Aglabiyah, Ziridiyah, Hammadiyah kemudian Murabithun dan Muwahhidun.

Pada pembahasan kali ini kami akan membahas  dinasti Murabithun dan Muwahhidun  serta Bani Ahmar. Dinasti tersebut mempunyai wilayah yang luas dan memberikan sumbangan yang tak sedikit bagi pengetahuan dan perkembangan Islam dan kelak mampu menguasai Spanyol dimana saat itu Spanyol sedang dalam perpecahan dan dikuasai oleh raja – raja kecil  ( Muluk Al Tawaif ) yang beragama Islam tapi membayar upeti kepada kerajaan Kristen yang didukung oleh Romawi. Meskipun nanti pada akhirnya Spanyol lepas dari kekuasaan pemerintahan Islam dan diporak porandakan oleh pasukan Kristen

Muluk Al Tawaif ( Raja – Raja Kecil )

Setelah kekhalifahan Umayyah berkhir di Spanyol, muncullah negara-negera kecil yang terus – menerus betikai dalam perang saudara, kemudian mereka dikalahkan  oleh dua dinasti Barbar dari Maroko, dan sebagian lagi negara-negara kecil menyerah pada kekuasaan Kristen yang tengah bangkit di utara.

Sebelum riwayat dinasti Umayyah hilang dari Spanyol muncullah penguasa-penguasa baru diantaranya :

1. Bani Hamudiyyah yang memproklamirkan sebagai penguasa yang berkuasa di Malaga dan Algeciras antara tahun 1010 – 1057. Pendirinya adalah ‘Ali ibn Hammid tahun 1016 – 1018, yang dari namanya ia menghubungkan garis keturunannya kepada menantu Rasulullah   ( ‘Ali bin Abi Tholib ), tetapi ia sendiri sebenarnya keturunan Barbar. Sebelumnya ‘Ali ibn Hamid menjabat sebagai gubernur Ceuta dan Tangier sampai akhirnya ia memproklamirkan sebagai khlaifah di Kordoba. Ia juga menaklukan Malaga dan Algeciras. Dinasti ini bertahan sampai delapan keturunan sampai tahun 1057. Sebelum akhirnya direbut kembali oleh Hisyam III alias al-Mu’tamad dari dinasti Umayyah. Tapi dinasti ini tidak bertahan lama dalam situasi yang kacau, pada akhirnya dibentuklah dewan yang diketuai oleh Abu Hazm ibn Jahwar yang menghapus kekhalifahan Umayyah di Spanyol.

2. Dinasti ‘Abbadiyyah, dinasti ini didirikan oleh Muhammad ibn Abbad 1023 – 1042, yang berkuasa di Seville, kemudian kekuasaannya meluas sampai ke Toledo. Pada masa raja Mu’tamid  dinasti ‘Abbadiyyah meminta bantuan kepada penguasa Murabithun di Maroko untuk menghadapi pasukan Kristen ( pasukan Al Fonso VI ) di Spanyol. Tapi sayang setelah pasukan Murabithun berhasil mengalahkan pasukan AlFonso VI, tak lama kemudian malah menyerang dan menguasai dinasti ‘Abbadiyyah, maka berakhirlah dinasti ‘Abadiyyah di tangan sekutunya sendiri pada tahun 1091.

3. Afthasiyyah atau Banu Maslama, dinasti ini didirikan oleh Abdullah Al-Mansyur tahun 1022 – 1045 yang berkuasa di Badajos. Pada pemerintahan yang ke 3 yaitu masa Umar Al-Mutawakkil 1068 – 1094 bersedia bekerja sama dengan orang Kristen ( pasukan Al Fonso IV ) dengan menyerahkan daerahnya yaitu Leon dan Castile  untuk menyerang dan menaklukan kerajaan Islam lainnya yaitu Al-Murawiyyah. Sungguh menyedihkan sesama dinasti Islam tidak bersatu malah bekerja sama dengan Kristen untuk menguasai dinasti Islam lainnya.

4. Jahwariyyah, dinasti ini didirikan oleh Jahwar tahun 1031 – 1041 yang berkuasa di Cordoba, dinasti ini bertahan sampai 1069 dengan penguasanya yang terakhir  Abdul Malik.

5. Dzun Nuniyyah, didirikan oleh Abdur Rahman ibn Dzin Nun dengan wilayah kekuasaan di Toledo tahun 1028 , dinasti ini bertahan sampai tahun 1085 dengan raja terakhir Yahya Al-Qadir 1085  setelah ditalukkan oleh pasukan AlFonso VI.

6. ‘Amiriyyah di Valencia 1021 – 1096, didirikan oleh Abdul Aziz Al-Mansyur 1021- 1061. Dinasti dipimpin sampai enam generasi sampai akhirnya ditaklukan pada masa Al Qadhi’ Ja’far tahun 1096 oleh Al Murawiyyah.

Itulah sebagian di antara kerajaan – kerajaan kecil di Spanyol yang saling berperang sesama kerajaan Islam yang akhirnya mereka ditumpas oleh pasukan Kristen atau oleh pasukan lain dari luar Spanyol, seperti Murabithun yang datang ke Spanyol atas undangan raja ‘Abadiyyah, yang akhirnya menguasai sebagian besar wilayah Spanyol.

 

Al Murabithun 1056 – 1147

Dinasti Murabithun pada awalnya adalah sebuah kegiatan militer keagamaan yang didirikan pada abad 11. Murabithun ( ribath ) sejenis benteng pertahanan Islam yang berada di sekitar masjid. Masjid  mempunyai doble fungsi sebagai tempat ibadah, penyebaran da’wah sekaligus sebagai benteng pertahanan. Anggota pertamnya berasal Lumtunah bagian dari suku Sanhaji yang suka mengembara di padang Sahara. Salah satu kebiasaan mereka menggunakan cadar yang menutupi wajah di bawah mata, kebiasaan ini dinamakan Mulatstsamun ( para pemakai cadar ) yang kadang – kadang menjadi sebutan lain bagi kaum Murabithun.

Kaum Murabithun  berasal dari sebuah pulau di Senegal, sebagai mana kebiasaan orang Barbar yang hidupnya nomaden, mereka memperluaskan kekuasaannya dengan menaklukan suku satu persatu dan memaksanya untuk mengikuti atau memeluk agama Islam. Pada awalnya gerakan Murabithun adalah untuk da’wah Islam yaitu meningkatkan pengetahuan mereka tentang agama Islam yang dipimpin Abdullah bin Yasin ulama besar yang diminta oleh Yahya ibn Ibrahim seorang tokoh suku Sanhaji untuk berda’wah di suku mereka. Setelah Abdullah bin Yasin meninggal da’wahnya dilanjutkan oleh Abu Bakar, kemudian Yusuf ibn Tasfin. Dibawah pimpinan  Yusuf ibn Tasfin gerakan Murbithun menjadi besar dan menjadi sebuah dinasti. Pada  1061 Yusuf ibn Tasfin menguasai Maroko, pada tahun 1062 Yusuf ibn Tasfin mendirikan Marakesh sebagai ibu kota kerajaan. Meskipun Murabithun telah menjadi sebuah dinasti yang memakai gelar amirul muslimin, tetapi dalam urusan spiritual mereka tetap mengakui otoritas Khalifah Abasiyah di Bagdad. Koin dinar yang dipakai didepan mencantumkan gelar amirul muslimin dan di belakang mencantumkan amirul mu’minin.

Dinasti Murabithun yang  berkuasa di Afrika Utara ( Maroko, Aljazair sampai Senegal ) mendapat undangan dari raja al Mu’tamid dari Bani Abbad yang berada di Spanyol untuk membantunya  menghadapi pasukan AlFonso VI. Sebenarnya tindakam al Mu’tamid mengundang Yusuf ibn Tasfin banyak mengundang kritikan dari pembesar lainnya. Tapi al Mu’tamid menjawab bahwa lebih bik ia menjadi seorang penunggang onta di Afrika daripada menjadi seekor babi di Castile.

Yusuf ibn Tasfin menyambut baik undangan raja al Mu’tamid. Ia bergerak melalui Spanyol Selatan berhadapan dengan pasukan Alfonso VI di Zallakh dekat Badajos dan dengan kekuatan pasukan yang berjumlah 20.000 orang, ia berhasil mengalahkan pasukan Alfonso VI, tapi raja Alfonso VI dapat melarikan diri dan selamat dari pasukan  Yusuf ibn Tasfin.Dengan kemenangannya ini ia mendapat sambutan yang hangat / antusias dari rakyat muslim Spanyol dan mendapat pujian dari para penyair Seville, tapi sayang ia tak dapat memahami sair – sair tersebut, dan kembali ke Afrika.

Yusuf ibn Tasfin merasakan  bahwa daerah Spanyol lebih subur , nyaman dan beradap ketimbang di Afrika  yang tandus dengan gurun sahara yang tidak menarik, maka timbul di hatinya untuk kembali ke Spanyol, tapi bukan sebagai sekutu melainkan sebagai penakluk. Ia ingin merebutnya dari kekuasaan al Mu’tamid yang dulu dibantunya ketika menghadapi pasukan Alfonso VI. Pada bulan November 1090, ia memasuki kota Granada, kemudian Seville, dan kota – kota utama lainnya. Seluruh wilayah Spanyol muslim direbutnya kecuali kota Toledo dan Saragosa yang diizin untuk ditempati orang Kristen dan Banu Hud. Raja Al Mu’tamid ditangkap dan dibuang ke Maroko.Berakhirlah kekuasaan Bani Abbadiyah di tangan yang semula sekutu kemudian berubah menjadi lawan. Madzhab yang dianut oleh dinasti Murabithun adalah Maliki. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Arab dan bahasa Spanyol. Kemudian memilih kota Seville menjadi ibu kota kedua setelah Maroko di Afrika Utara. Pada tahun 1106 Yusuf ibn Tasfin meninggal dunia dalam usia 100 tahun dengan mewarisi wilayah yang luas meliputi Afrika Utara (Maroko, Aljazair sampai Senegal) , Spanyol , Leberia Selatan dan kepulauan Atlantik. Kekuasaan Dinasti Murabithun kemudian diganti oleh anaknya yaitu Ali ibn Yusuf  wafat tahun 1143 dan penguasa yang terakhir yaitu Ishaq ibn Tasyfin sampai 1147. Yang akhirnya dinasti ini takluk pada dinasti Muwahhidin setelah ibu kota Marrakesh direbut oleh rivalnya dari suku Barbar yang lain.

Al Muwahhidun  1147 – 1269

Sama halnya dengan dinasti Murabithun yang memulai propagandanya dibidang keagamaan. Atau setidak – tidaknya menjadikan agama sebagai dasar gerakan tersebut. Pelopor dan sekaligus sebagai pendiri adalah Muhammad ibn Tumart yang lahir di Atlas tahun 1082 M. Dia berasal dari suku Masmudah pegunungan Atlas Maroko. Dia merupakan seorang pengelana yang haus ilmu pengetahuan. Dia belajar dari satu tempat ke tempat lain, mulai dari Cordoba, Alexandaria, Mekkah dan akhirnya di Bagdad.

Setelah kembali dari perantauannya di Maroko, Ibn Tumart mulai mengadakan propaganda pembaruan terhadap tradisi Islam yang dogmatis kepada Pentauhidan yang murni dan tegas. Sebutan yang diberikan kepada pengikutnya adalah al Muwahhidin yang berarti Penegak Keesaan Tuhan. Dalam bidang teologi ia berpaham al Asy‘ariyah sedangkan  bidang tasauf ia memilih paham yang dikembangkan oleh imam al Ghazali dan bidang Fiqh dia menganut madzhab Maliki . Ibn Tumart sangat keras dan terkadang kasar dalam menanamkan moral dan kepercayaan agama, ia pernah memukul saudara perempuan dari gubernur dinasti Murabithun di kota Fez karena tidak mengenakan kerudung.

Gerakan Muwahhidin semakin lama semakin banyak pengikutnya di Aghmat Ibn Tumart berhasil memikat suku Berbers Atlas.Suku itu sebelumya sudah memeluk agama Islam tapi sangat minim pengetahuan mereka terhadap Islam. Dari gerakan keagamaan kemudian berubah menjadi gerakan politik, dan para pengikutnya menyebutnya sebagai Imam Mahdi. Gerakan ini semakin sukses karena dibantu oleh Abdul Muin, orang yang ahli dalam hal strategi dan militer. Di kota Tin Malal (Tinmal ) mendirikan masjid sebagai pusat pengajaran dan propagannya, dan di kota ini pada tahun 1121 M dijadikan sebagai ibu kota pertama al Muwahhidin.

Setelah Ibn Tumart meninggal dunia tahun 1130 gerakan ini dipimpin oleh Abdul Mu’min yang kemudian menggunakan gelar khalifah bagi dirinya. Dia berhasil menaklukan , mengusai kerajaan Hammiyah di Bejaya, Ziridiyah di Ifriqiyah, Teluk Sidra , dinasti Murabihtun dan ibu kotanya Marrakesh ( Maroko ) Afrika Utara 1145 , Padang Pasir Libya 1149. Pada tahun 1170 dia melakukan ekspansi ke Spanyol dan berhasil menguasainya, maka berakhirlah dinasti Murabithun di Afrika Utara dan Spanyol. Kemudian dia menjadikan Sevillle sebagai ibu kota Dinasti Muwahhidin, tapi sang penguasa ini sering mondar mandir antara Marrakesh ( Maroko ) dan Seville di Spanyol.

Dinasti Muwahhidun mencapai kemenangan gemilang atas Spanyol dalam pertempuran di Alarcos tahun 1195 yang menandai puncak kekuatan politik. Tapi tak lama kemudian ummat Islam mendapat serangan dari pasukan Kristen dalam peperangan di Las Navas de Tolosa tahun 1212. Ini merupakan satu kekalahan dalam sejarah ummat Islam di Spanyol dan sekaligus mengawali terjadinya gerakan pemusnahan terhadap orang Islam.

Pada Dinasti Muwahhidun lahir sejumlah tokoh – tokoh filsafat dan ilmu pengetahuan  Muslim yang sangat dihargai dikalangan Barat diantaranya : Ibn Tufayl  wafat tahun 1185 karyanya antara lain Hayy ibn Yaqzhan , Ibn Rusyd ( Averoes ) wafat tahun 1198, karyanya antra lain :al Kulliyat fi al Thibb, Tahafut al Tahafut, Jami’, Matan Zubad , Ibn Zuhr ( Avenzoer ) wafat tahun 1162 karyanya at Taisir fi     al Mudawah wal al Tadbir , Ibn Arabi wafat tahun 1240 karyanya antara lain Fushush al Hikam, Kimiyya al Sa’adah,Wahdah al wujud.

Pada masa ini juga tumbuh ilmu arsitektur  yang bercorak Musllim Spanyol.Sejumlah peninggalan seni arsitektur antara lain Masjid Giralda yang sekarang menjadi Kathedral Agung di Seville, Masjid Kutubiyyah di Marakesh, Masjid Hasan di Rabat dan di Maroko dia membangun rumah sakit yang merupakan bangunan yang tiada tandingannya  pada zamannya.

Daulat Bani Ahmar 1232-1492 M

Kita pasti mengenal salah satu bangunan monumental dengan histori yang cukup panjang, yakni Istana Alhambra. Alhambra dalam bahasa Arabnya hamra’ bentuk jamak dari kata ahmar yang berarti “merah”. Karena bangunannya banyak dihiasi dengan ubin-ubin, bata-bata berwarna merah, serta penghias dinding yang agak kemerah-merahan dengan keramik yang bernuansa seni Islami, disamping marmer-marmer yang putih dan indah. Ada pula yang berpendapat bahwa Alhambra dinamakan demikian karena diambil dari seorang pendirinya yakni Al- Ahmar. Hingga saat ini bangunan bernilai tinggi akan seni arsitektur ini memperlihatkan peradaban tinggi orang-orang Islam tempo dulu. Istana ini berada di bukit La Sabica, masih tetap berdiri sebagai bukti kejayaan Islam di Granada Spanyol.

Istana Alhambra didirikan oleh kerajaan Bani Ahmar atau bangsa Moor (Moria) (bangsa yang berasal dari daerah Afrika Utara), satu kerajaan Islam terakhir yang berkuasa di Andalusia sekarang Spanyol.

Kerajaan-Kerajaan Islam

Pada pertengahan abad ke-11, Kerajaan Kanem yang pengaruhnya menyebar hingga Sudan beralih ke Islam. Sementara di Afrika Barat, penguasa Kerajaan Bornu juga memeluk Islam. Selanjutnya, penduduk kerajaan-kerajaan tersebut dengan patuh mengikuti para penguasanya.

Ibnu Batutah, penjelajah termasyhur dari abad ke-14, memuji kesalehan umat Islam Afrika dengan mengatakan bahwa masjid-masjid penuh dengan jamaah pada hari Jumat sehingga orang yang tidak datang lebih awal tidak akan kebagian tempat duduk. Pada abad ke-16, penguasa Kerajaan Quaddai dan Kerajaan Kano memeluk Islam.

Pada abad ke-18, Kekhalifahan Sokoto di Nigeria, yang dipimpin Usman dan Fodio, berperan besar dalam menyebarkan Islam. Saat ini, Islam merupakan agama mayoritas di Afrika, terutama di Afrika Utara dan Timur Laut, juga di daerah Sahel. Islam menjadi bagian dari keragaman budaya, adat, dan hukum di berbagai bagian Benua Afrika.

Keragaman                                                                                                                           

Islam di Afrika tidak statis dan terus terbentuk kembali oleh perubahan kondisi sosial, ekonomi, dan politik. Islam Afrika memiliki dimensi lokal dan global. Di tingkat lokal, kaum muslimin (termasuk muslimin Afrika) menjalankan agamanya secara otonom dan tidak memiliki organisasi internasional yang mengatur praktik keagamaan mereka. Kenyataan ini menyebabkan perbedaan dan keragaman praktik keagamaan Islam di Benua Afrika.

Bagaimanapun, di tingkat global, kaum muslimin Afrika merupakan bagian dari umat, komunitas Islam dunia, dan dengan antusias mengikuti perkembangan isu-isu serta peristiwa terbaru yang mempengaruhi dunia Islam. Dengan adanya globalisasi dan penemuan-penemuan baru di bidang teknologi informasi, kaum muslimin Afrika kian berkembang dan menjaga kedekatan mereka dengan dunia Islam yang lebih luas.

Kaum muslimin Afrika, seperti kaum muslimin lain di Asia, Timur Tengah, dan di seluruh dunia, tampaknya sedang berjuang menentukan arah Islam di masa depan. Inti perjuangan tersebut berkaitan dengan masalah jalan yang harus ditempuh umat Islam dalam menjalankan agamanya. Mayoritas umat Islam tampaknya memilih berada di jalur moderat yang toleran. Namun, sebagian lagi, yang jumlahnya relatif kecil tetapi terus bertambah, menginginkan bentuk keagamaan yang lebih ketat, yang mendikte dan mengontrol semua aspek dalam masyarakat.

Sufisme

Sufime memiliki banyak pengikut di Afrika Barat dan Sudan. Di wilayah ini, terdapat berbagai aliran sufi. Tarekat Muridiyah memiliki jutaan pengikut di Senegal dan Gambia. Aliran ini didirikan oleh Amadou Bamba. Tarekat Tijaniyah memiliki banyak pengikut di Afrika Barat, yakni di Mauritania, Mali, Niger, Senegal, dan Gambia. Aliran tarekat ini sebenarnya berasal dari Afrika Utara. Sidi Ahmad al-Tijani (1737–1815 M), yang lahir di Aljazair dan wafat di Maroko mendirikan Tarekat Tijaniyah pada 1781 M.

Syariah

Sebagian besar negara Afrika membatasi penerapan syariah hanya untuk masalah-masalah “hukum status pribadi”, seperti pernikahan, perceraian, warisan, dan hak asuh anak. Kecuali di Nigeria dan Somalia, sekularisme tidak mendapat tentangan serius di Afrika. Di sebagian besar wilayah, Muslim dan nonmuslim hidup berdampingan secara damai.

Populasi umat Islam terbesar di Afrika Sub-Sahara tinggal di Nigeria. Pada 1999, negara-negara bagian di Nigeria bagian utara menerapkan syariah. Sementara Mesir, salah satu negara yang populasi umat Islamnya paling besar di Afrika, menyatakan syariah sebagai sumber utama hukum di negara tersebut. Namun, hukum pidana dan perdata di Mesir sebagian besar berasal dari hukum Prancis.

Dinasti-dinasti di Afrika

Dinasti Idrisiyah

            Idris bin Abdullah yaitu cucu dari Hasan bin Ali, melakukan pemberontakan terhadap dinasti Abbasiyah pada tahun 786 M. karena kalah, ia melarikan diri ke Maroko dan di sana lah ia mendirikan dinasti Idrisiyah (788-974 M) dengan Fez sebagai ibu kotanya. Dinasti ini merupakan dinasti Syi’ah pertama dalam sejarah Islam. Pada waktu itu, dinasti ini berada di antara dua kekuatan besar Islam yaitu Umayyah di Andalusia dan Fatimiyah di Afrika Utara. Dinasti ini kemudian mengalami kemunduran dan berakhir  setelah Ghalib Billah, panglima dari tentara dnasti Umayyah di baawah kekhalifahan Hakam II, berhasil menaklukan dan mengalahkan dinasti Idrisiyah.

Dinasti Aghlabiyah

            Semasa kepemimpinan khalifah Harun al-Rasyid mengutus Ibrahim bin al-Aghlab sebagai penguasa Ifriqiyah pada tahun 800 M untuk membendung kekuatan-kekuatan luar khususnya dinasti bergelar Amir. Kawasan Laut Tengah berhasil ia pengaruhi dan armada lautnya menjadi semacam polisi di Italia, Prancis, pulau Korsika, dan Pulau Sardinia. Dan mereka pun berhasil menguasai Pulau Sisilia, Malta, Kreta, dan sampai ke Laut Aegea.

            Selama berdiri, dinasti Aghlabiyah (800-909 M) harus menghadapi dinasti Rustamiyah dan Idrisiyah yang sama-sama berekspansi ke Maghribi untuk melemahkan kekuasaan Abbasiyah di Afrika dan sekitarnya. Dinasti yang berpusat di Sijilmasa ini membawa Afrika utara dan Kawasan pesisir Laut Tengah dalam banyak kemajuan. Ziadatullah al-Aghlabi III sebagai penguasa terakhir dari dinasti ini akhirnya menutup kejayaan dinasti ini pada tahun 909 M.

Dinasti Thulun

            Dinasti Thulun berdiri di Suriah dan Mesir pada tahu 828 M. Pendirinya adalah Ahmad bin Thulun. Pada awalnya Ia ditugaskan oleh penguasa Abbasiyah sebagai penguasa Mesir. Pada periode ini ternyata Ia membawa perkembangan yang pesat yaitu dalam bidang kegiatan intelektual, dan dunia arsitekturnya pun berkembang dengan pesat. Pada masa pemerinahan dari Ahmad bin Thulun ini juga banyak dibangun rumah sakit, masjid, dan menara-menara. Salah satu masjid yang ada pada masa pemerintahan dinasti ini adalah Masjid Ibnu Thulun di Mesir yang sangat popular karena gaya arsitekurnya. Kemudian pemerintahan Thulun digantikan oleh anaknya Syaibhan (904-905 M), yang gagal meneruskan kejayaan dinasti ini ketika dipimpin oleh ayahnya dan akibatnya ia harus merelakan kekuasaan Mesir kembali jatuh ke tangan Abbasiyah.

Dinasti Iksidiyah

            Muhammad bin Tughuz yang adalah keturunan Turki mendirikan dinasti Iksidiyah ini yag Berjaya selama kurun waktu 935-969 M. ia mendapatkan restu dan nama untuk dinasti ini dari khalifah ar-Razi. Dengan menggunakan nama Iksid yang merupakan gelar kehormatan raja-raja Sasaniyah sebelum Islam, Muhammad bisa menguasai kawasan Syam, Palestina, dan edua kota suci Islam , Makkah dan Madinah. Selama kekuasaan dinasti ini, Wazir Abdul Misk Kufur bisaberkuasa dengan leluasa dan sukses sehingga bisa menjadikan anak keturunan Muhammad sebagai boneka. Penguasa terakhir dari dinasti ini adalah Abdul Fawaris Ahmad, yang keudian dikalahkan oleh Jawhar, seorang panglima dari dinasti Fatimiyah.

Perkembangan Islam di Afrika Selatan

Sejarawan Afrika Selatan ada yang berpendapat bahwa orang Islam pertama di Afrika Selatan ini adalah kaum Mardyker yang datang dari Kepulauan Maluku tahun 1658. Mereka didatangkan oleh VOC sebagai pasukan pengaman dari serbuan penduduk asli setempat Juga dimanfaatkan pula sebagai buruh kerja paksa (penelitian Dr. A. Davids). Kemudian pada tahun 1667 tiba pula sekelompok buangan politik dari Sumatera, yang merupakan penganut faham tarekat Syekh Qadiriyyah Dua di antara mereka kemudian malah mengembangkan komunitas sosial tersendiri di daerah Constantia, distrik di pinggiran kota Cape Town sekarang yang saat itu masih berupa hutan. Karenanya tak heran jika di Groot Constantia dan Klein Constantia sekarang didapati makam-makam Islam yang disebut Karamat. Dan banyak masyarakat yang juga menziarahinya sebagaimana mereka menziarahi makam-makam keramat lainnya semisal Keramat Luar Batang di Jakarta Utara atau Karamat Tuang Guru Macassar Faure tempat disemayamkannya jasad Syekh Yusuf pada jaman dahulu.

Naskah Keturunan Masyarakat Indonesia di Afrika Selatan

Oleh Dick van der Meij

Naskah Indonesia merupakan suatu gejala global. Di seantero dunia terdapat koleksi naskah-naskah yang berasal dari Indonesia baik di perpustakaan universitas, museum, dan di perpustakaan nasional. Tentu saja koleksi naskah penting dilestarikan baik di perpustakaan maupun menjadi koleksi pribadi di Indonesia, tetapi keberadaan koleksi naskah Indonesia di luar negeri juga tidak kalah penting.

Keberadaan naskah di luar Indonesia sangat bermanfaat agar khazanah kesusastraan Indonesia dan terutama isinya dapat dipelajari oleh orang Indonesia maupun orang asing. Kalau keberadaan naskah terbatas pada negara asalnya dan jika terjadi suatu musibah-seperti tsunami di Aceh yang banyak memusnahkan manusia, tetapi juga khazanah naskah yang tersimpan di Beranda Mekah itu- sehingga kebudayaan tertulis terancam musnah. Akibatnya, tidak ada lagi yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan naskah-naskah tersebut. Kalau khazanah naskah tersebar di mana-mana tidak mungkin kekayaan karya leluhur ini akan rusak semuanya. Misalnya, contoh yang paling hebat dalam sejarah manusia adalah koleksi naskah terbesar di dunia yang ada di kota Aleksandria, Mesir, yang terbakar habis sehingga semua isi naskah itu hilang untuk selamanya.

Naskah Indonesia tidak hanya dibawa ke luar negeri oleh orang asing, tetapi juga oleh orang Indonesia sendiri. Itu yang terjadi dengan naskah-naskah, ataupun salinannya yang masih tersimpan di Afrika Selatan. Akhir- akhir ini memang semakin banyak diketahui pentingnya peran kelompok orang Melayu di Afrika Selatan asal Indonesia dalam menyebarkan kebudayaan Melayu, dan tentu saja juga kebudayaan Islam di negeri tersebut.

Untuk waktu cukup panjang, keberadaan naskah di Afrika Selatan tersebut sudah banyak diketahui, tetapi katalog naskahnya tidak tersedia. Hingga akhirnya Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) menerbitkan Katalog Naskah: Koleksi Masyarakat Keturunan Indonesia di Afrika Selatan, yang disunting Mukhlis PaEni dan disusun oleh Drs Ahmad Rahman, M.Ag. dan Syahriah, M.Hum.

Kita perlu sangat berterima kasih kepada Departemen Kebudayaan dan Pariwisata atas kepeduliannya terhadap kebudayaan leluhur ini. Katalog ini merupakan usaha terbaru tentang keberadaan naskah di Afrika Selatan. Katalog ini bagus, formatnya kecil, dan dihiasi foto naskah yang dibicarakan. Deskripsi naskah singkat, tepat dan menyebutkan judul, nomor, bahasa, jenis huruf (rata-rata Arab dan Jawi), nama pemilik, jumlah halaman, ukuran dan jenis kertas serta informasi lain seperti isi. Katalog ini merupakan alat yang baik untuk mendapatkan gambaran awal tentang masing-masing naskah dengan informasi yang paling dasar. Apakah naskah ini juga dapat dirisetkan di kemudian hari tidak menjadi jelas, sayangnya. Tentu saja katalog ini merupakan langkah awal dalam usaha berkelanjutan untuk menggali, memetakan, dan mempelajari naskah masyarakat keturunan Indonesia di Afrika Selatan.

Koleksi pribadi

Sebagaimana terjadi juga dengan katalog-katalog lain yang baru-baru ini terbit tentang naskah Aceh, Minangkabau, dan Palembang, keberadaan naskah- naskah tersebut banyak sekali yang tersimpan sebagai koleksi pribadi. Mukhlis PaEni memang paling berpengalaman berkaitan dengan keberadaan naskah koleksi pribadi di Sulawesi Selatan. Hal ini ia lakukan sewaktu menyusun katalog tentang naskah- naskah di daerah tersebut yang jumlahnya lebih dari 4.000 buah. Naskah pribadi biasanya tidak banyak diketahui keberadaannya sehingga peta kita tentang dunia naskah Indonesia, walaupun sudah mulai makin baik, masih tetap bersifat sementara.

Katalog ini berisi 114 naskah dari koleksi pribadi 12 keluarga Melayu keturunan Indonesia di Cape Town, SimonsTown, dan Port Elisabeth. Semua naskah membicarakan aspek-aspek agama Islam sehingga klasifikasi yang dibuat dalam katalog ini terdiri atas pengelompokan Al Quran, Doa, Tasawuf, Fikih, dan Tauhid, serta ilmu-ilmu Islam yang lain. Menarik untuk melihat bahwa jumlah naskah Doa dan Tauhid jauh lebih besar daripada naskah tema lain. Hal ini mungkin merujuk ke tradisi agama yang praktis dan lebih banyak dianut masyarakat diaspora. Naskah berisikan kesusastraan Melayu Islam sama sekali tidak ada dalam katalog ini. Keberadaan naskah berisikan topik selain topik Islam ini belum dicatat dalam katalog lain, tetapi mungkin saja juga ada di Afrika Selatan. Naskah seperti Isra’ Mi’raj dan Nabi Bercukur pasti juga ada di Afrika Selatan karena merupakan teks yang penting dalam kehidupan orang Muslim dahulu maupun sekarang. Di Indonesia naskah ini banyak sekali ditemukan dan terutama Isra Mi’raj merupakan topik yang sering dibahas. Secara politik Isra Mi’raj juga penting karena topik ini sering digunakan sebagai bahan pidato pejabat atau tokoh-tokoh di Indonesia untuk menyampaikan pesan bagi masyarakat Indonesia yang biasanya dibawakan pada 26 Rajab. Mungkin saja hal ini juga terjadi di Afrika Selatan.

Sejarah keberadaan naskah- naskah Nusantara di Afrika Selatan tersebut masih gelap, tetapi diperkirakan bahwa naskah tersebut dibawa ke Afrika Selatan oleh tokoh-tokoh Indonesia yang masih belum banyak diketahui peranannya dalam penyebaran agama Islam ke Afrika Selatan, yaitu Syekh Yusuf al-Makassari, Imam Abdullah bin Kadi Abdussalam, alias Tuan Guru dari Kesultanan Tidore, Imam Abdul Karim bin Imam Jalil bin Imam Ismail, alias Tuan Ismail Dea Malela dari Kesultanan Sumbawa, dan Syekh Abdurrahman Matibisa dari Sumatera Barat. Mungkin saja dalam perjalanan sejarah masih banyak orang Nusantara lain yang juga membawa naskah-naskah Nusantara ke sana.

Kebudayaan Melayu

Lintasan sejarah tokoh yang paling terkenal di antara mereka adalah Syekh Yusuf al-Makassari, dipaparkan oleh editor buku ini. Syekh Yusuf al-Makassari, tokoh bangsawan Sulawesi Selatan ini, lahir pada tanggal 3 Juli 1626. Ibunya seorang wanita Makassar, sedangkan ayahnya seorang pedagang Arab yang bernama Abdul Khaidir. Asal usul Syekh Yusuf masih agak gelap dan perlu diteliti kembali secara lebih terperinci. Pentingnya, Syekh Yusuf berkelana di seantero dunia Islam pada zamannya, khususnya ke Mekkah untuk memperdalam pengetahuannya tentang Islam. Ia pulang ke Nusantara tahun 1672, tetapi tidak ke Sulawesi Selatan, melainkan ke Banten di mana ia menjadi mufti di bawah sultan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa. Waktu Banten mengalami konflik dengan VOC (Belanda). Syekh Yusuf sangat giat berperang melawan VOC sehingga tahun 1683 ia dibuang ke Seilon (Sri Lanka) yang waktu itu masih dikuasai orang Belanda juga. Belanda kurang puas dengan pembuangannya ke sana karena banyak orang Nusantara singgah di Seilon waktu pergi atau pulang dari Mekkah. Ia kemudian dibuang ke Afrika Selatan dan berpulang di sana, dan dikuburkan di Zandvliet, distrik Stellenbosch yang sekarang diketahui dengan nama Macassar Duinen (Bukit Makassar).

Hasil katalog sederhana ini diperoleh dari proyek singkat (Agustus-September 2006). Saya harap ada dana dan kemungkinan untuk menelusuri lebih mendalam keberadaan naskah Melayu/Nusantara di Afrika Selatan. Hal ini dilakukan dalam rangka revitalisasi kebudayaan Melayu sebagai kebudayaan dunia, usaha ini akan sangat berharga untuk meningkatkan perhatian, penghargaan, dan pengetahuan dunia terhadap naskah Nusantara yang hebat ini. (Dick van der Meij, Center for the Study of Religion and Culture, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta).

Islam di Negara-Negara Afrika

Negara Sudan

            Ahli-ahli penyelidik keturunan bangsa-bangsa di dunia sampai sekarang selalu menjadikan bangsa ini sebagai objek penyelidikan, tetapi yang jelas bahwa di sebelah utara kebanyakan dari mereka adalah keturunan dari Kaukasus, dan di sebelah selatan adalah keturunan Negro. Sesungguhnya pun demikian, tapi ada juga keturunan Al-Baqqarah yang hidup di sebelah selatan berbaur dengan keturunan Negro.

Masuknya Islam

            Sejarah Negara Sudan sangat erat kaitannya dengan sejarah Negara Mesir. Ketika Mesir diperintah oleh Islam pimpinan Umar bin Ash, maka untuk mengamankan daerah perbatasan selatan, diutuslah Abdullah bin Sa’id bin Abis Sarah mengepalai satu angkatan bersenjata ke Noubah tahun 20 H. pada saat itu juga kawasan ini menjadi kawasan kekuasaan dinasti Umayyah, namun di akhir-akhir pemerintahannya Sudan menjadi tempat pelarian orang-orang yang tidak senang kepada pemerintahan Umayyah.

            Mula-mulanya Sudan tidak merasakan propaganda Syi’ah Fatimiyah karena mereka adalah pengikut mazhab Sunni, menyebabkan berturut-turut Fatimiyah memasuki daerah itu, tetapi lama-lama mereka merasakan juga sehingga golongan Fatimiyah lari ke daerah Nouba khususnya pada masuknya golongan Ajjubiyah. Lepas dari semua persoalan itu, ternyata pada abad ke Sembilan sesudah adanya saling pengertian diantara golongan Islam dan golongan Noubah, sehingga raja Noubah yang bernama Zakharia bin Bahnis mengutus anaknya yang beragama Masehi yang bernama  George kepada khalifah di Baghdad untuk menyusun suatu perjanjian damai. Pada abad kesepuluh yaitu setelah George naik tahta dilakukanlah usaha-usaha yang dilakukan untuk menjadikan Negara Islam, namun usaha itu gagal.

            Awalnya agama masehi berjalan dengan baik di Noubah dan mereka terus memperkuat kedudukan mereka dengan tidak mengacuhkan serangan-serangan yang dilakukan oleh Mesir. Namun kira-kira abad ke-13 akhir maka arab berhasil menyelundup masuk ke daerah Noubah dengan cara imigran dan melakukan perkawinan dengan gadis-gadis di Noubah dan akhirnya menguasaai kerajaan-kerajaan di Noubah. Dengan demikian maka mulailah bertumbuhan kerajaan-kerajaan Islam dibeberapa daerah diseluruh Sudan yang terpenting diantaranya adalah Kerajaan Alfunji (1505-1820), Kesultanan Darafura (1638-1875), Kerajaan Taqli (1570-akhir abad ke-19).

            Pada masa pemerintahan Umayyah dating pula keturunan Arab dari sebelah danau Tsaad melalui Padang Pasir Barat mendirikan Kerajaan Fung di Sannar (1505-1821) sampai akhir perang Turki. Berkat dari berkembangnya Dinasti Fung ini maka perkembangan Islam pun ikut berkembang sampai pada daerah perbatasan Ethiopia. Penyebaran Islam tidak disebarkan dengan kekerasan, dan sampai saat ini agama Islam di Sudan terus berkembang dan memiliki Jemaah yang besarterutama di Sudan utara. Cara penyebaran Islam di Negara ini juga yang paling penting adalah dengan aliran tasawuf dan gerakan filsafat Islam pada umumnya. Sehingga di Sudan sendiri terkenal beberapa tarekat yaitu diantaranya Tarekat Marghaniyah, Tarekat Ismailiyah, Tarekat Samaniyah, Tarekat Majzubiyah, Tarekat Idrisiyah, Tarekat Tijaniyah, Tarekat Kadariyah, Tarekat Sjazaliyah.

Negara Ethiopia

Perkembangan Islam

            Pada abad keempat agama Masehi telah mempunyai hubungan dengan Gereja Qithbi di Iskandariyah. Gereja mempunyai tanah yang luas didaerah ini yang dapat mebelanjai sejumah pendeta-pendetanya, sehingga sebagian penduduk menganut agama Masehi. Kaum muslimin di kota Adisabeba hanya sedkit sekali, kebanyakan mereka erada di daerah timur dan selatan. Umat Islam di Negara ini menganut Aliran Syafi’I dan berpusat dikota Harar. Islam masuk ke Negara ini dari Sudan dan mereka mendirikan Masjid-masjid, sedangkan sekolah-sekolah Islam juga didirikan oleh pemerintah untuk keperluan anak-anak mereka.

            Kemudian perkembangan Islam mulai mengalami kemajuan yang besar adalah pada masa kekuasaan dan pemerintahan Umar bin Khatab dengan cara diam-diam mengirim rombongan kaum muslimin yang dikepalai oleh Alqamah bin Mujazzil Madlaji menyebrangi Laut Merah menuju Habsyah, tetapi rombongan ini tidak mendapatkan simpati, sehingga  mereka ini tidak berapa lama terusir kembali dari Negara itu. …….(belum selesai)

Negara Eritheria

Perkembangan Islam

            Perkembangan Islam pertama kali di Negara ini terjadi ditangan penduduk kepulauan diabad ke-12, kemudian berangsur-angsur masuk kedaratan pada abad ke-16 khususnya oleh raja-raja Islam yang berdiam di tepi pantai dengan pertolongan Pemerintah Turkia, kemudian oleh pemerintah Mesir, hingga pada Abad ke-19 hampir seluruh Negara ini menganut agama Islam. Selain daripada itu juga pada suku-suku Bajah yang telah menganut Islam banyak juga mempunyai jasa atas perkembangan Islam di sini, terutaama mereka dating dari dari sebelah barat sekitar tahun 1556 M.

            Adapun urutan suku-suku yang telah menganut Islam dari Timur ke Barat adalah sebagai berikut:

1.      140.000 suku Ubilit dan Banu Amir (Bajah) dari permualaan Islam.

2.      60.000 suku Mariya, turunan Takil, turunan Abraha dan turunan Syahajin.

3.      15.000 suku Bijun, Bughuts, dan Mansa (masuk Islam antara tahun 1830-1850 M)

4.      20.000 suku Baraja dan Kanamah.

5.      16.000 suku Sahu atau ‘Uz Muhammad.

6.      10.000 suku Danakah (‘Affar)

Adapun beberapa tarekat diantaranya yaitu Shufiyah seperti Tijaniyah, Kadariyah, Samaniyah, Chulutiyah, Syajaliyah, dan Marganiyah dan mereka semua ini adalah orang yang pemberani, ahli taqwa dan kaum yang saleh.

Negara Uganda

Perkembangan Islam

            Islam mulai masuk ke Uganda pada tahun 1852 dikala pemerintahan raja Suna (1833-1860 M), yaitu dibawa oleh khalifah yangdatang dari Zanzibar berbondong-bondong tiap tahun. Pada tahun 1860-1884 raja Mitisiya memerintah dan iapun memeluk agama Islam atas bantuan Maulaya bin Salim, sehingga sejak tahun 1880 dijadikannya Islamsebagai agama resmi kemudian dikala digantikan oleh cucunya Muwanaya (1884-1897 M) dari golongan Protestan dan Katholik tantangan yang amat hebat dengan bantuan Raja Karima yang memerintah daerah Unwah.

Daftar pustaka

  • Drs Ahmad Rahman, M.Ag., dan Syahrial, M.Hum, Katalog Naskah: Koleksi Masyarakat Keturunan Indonesia di Afrika Selatan, Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indoensia, 2008. Tebal: xxxviii +166 halaman.

·         http://www.csrc.or.id/resensi/index.php?detail=20081117005743

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: